Jurnal Tempo – Menikmati ayam goreng cepat saji bersama saus terasa seperti kebiasaan sederhana yang sulit dipisahkan. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa beberapa sachet saus dapat menambah asupan natrium tanpa disadari. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak harus sepenuhnya menghindari ayam goreng. Sebaliknya, mereka perlu memperhatikan jumlah saus yang digunakan dalam satu kali makan. Menurut contoh yang disampaikannya, satu sachet saus dapat mengandung sekitar 100 miligram natrium. Jika seseorang menggunakan tiga sachet untuk setiap potong ayam, jumlahnya akan cepat bertambah. Kebiasaan mengambil saus tambahan sering terasa sepele karena ukuran kemasannya kecil. Padahal, bahaya natrium saus sachet muncul saat kandungannya bergabung dengan natrium dari ayam, nasi, minuman, dan makanan lain yang dikonsumsi sepanjang hari.
Enam Sachet Saus Dapat Menyumbang Sekitar 600 Miligram Natrium
Dalam ilustrasinya, Budi menggambarkan seseorang yang menyantap dua potong ayam dengan tiga sachet saus untuk setiap potong. Artinya, orang tersebut menghabiskan enam sachet saus dalam satu kali makan. Jika setiap sachet mengandung sekitar 100 miligram natrium, saus saja telah menyumbang kurang lebih 600 miligram. Angka itu setara dengan sekitar 30 persen batas natrium harian orang dewasa yang direkomendasikan WHO. Organisasi kesehatan tersebut menyarankan konsumsi natrium kurang dari 2.000 miligram per hari, yang setara dengan kurang dari lima gram garam. Kementerian Kesehatan Indonesia juga menggunakan angka 2.000 miligram natrium sebagai batas konsumsi harian. Karena itu, satu sesi makan dapat mengambil porsi cukup besar dari jatah harian sebelum seseorang menghitung makanan lain yang telah dikonsumsi.
Baca Juga : Waktu Terbaik untuk Buang Air
Natrium dalam Ayam Membuat Total Asupan Semakin Tinggi
Masalahnya tidak berhenti pada saus. Ayam goreng cepat saji juga mengandung natrium dari bumbu, proses marinasi, lapisan tepung, dan bahan penguat rasa. Dalam contoh yang disampaikan Menkes, dua potong ayam dapat menyumbang sekitar 2.000 miligram natrium. Ketika jumlah itu ditambah dengan enam sachet saus yang mengandung sekitar 600 miligram, totalnya menjadi kurang lebih 2.600 miligram. Artinya, satu kali makan saja dapat melampaui rekomendasi harian WHO. Namun, kandungan setiap produk dapat berbeda menurut ukuran, resep, merek, dan porsi. Oleh sebab itu, konsumen sebaiknya memeriksa informasi nilai gizi sebelum membeli. Langkah sederhana tersebut membantu seseorang memahami bahwa rasa asin tidak selalu menjadi satu-satunya tanda makanan tinggi natrium. Beberapa makanan terasa gurih atau manis, tetapi tetap mengandung natrium dalam jumlah besar.
Asupan Natrium Berlebih Berkaitan Erat dengan Hipertensi
Tubuh sebenarnya membutuhkan natrium untuk membantu menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan kerja otot. Namun, jumlah yang terlalu tinggi dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan. Kondisi itu meningkatkan volume darah dan memaksa jantung bekerja lebih keras untuk mengalirkannya melalui pembuluh darah. Dalam jangka panjang, tekanan darah dapat meningkat dan berkembang menjadi hipertensi. Kementerian Kesehatan menyebut pola konsumsi tinggi natrium sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi. WHO juga menegaskan bahwa pengurangan natrium membantu menurunkan tekanan darah sekaligus mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit kardiovaskular lainnya. Bahayanya, hipertensi sering berkembang tanpa gejala jelas. Seseorang dapat merasa sehat selama bertahun-tahun, padahal tekanan darahnya perlahan merusak pembuluh darah, jantung, ginjal, dan organ penting lainnya.
Baca Juga :Pahami Cara Penularan HIV
Natrium Tersembunyi Tidak Hanya Berasal dari Garam Dapur
Banyak orang merasa telah membatasi garam karena jarang menambahkannya di meja makan. Namun, sebagian besar natrium justru dapat berasal dari makanan olahan, bumbu kemasan, saus, kecap, kaldu instan, mi instan, daging olahan, keju, dan makanan siap saji. WHO memasukkan saus serta berbagai makanan olahan sebagai sumber natrium yang perlu diperhatikan. Karena natrium tersebar dalam banyak produk, jumlahnya dapat terakumulasi sepanjang hari tanpa terasa. Sarapan dengan roti dan keju, makan siang cepat saji, camilan asin, lalu makan malam menggunakan kecap dapat membuat total asupan meningkat tajam. Oleh karena itu, pengendalian natrium tidak cukup hanya dengan mengurangi garam dapur. Masyarakat juga perlu membaca label, membandingkan produk, memperhatikan ukuran sajian, dan menghitung berapa banyak saus atau bumbu yang benar-benar digunakan.
Membaca Label Gizi Membantu Konsumen Membuat Pilihan Lebih Aman
Informasi nilai gizi pada kemasan dapat menjadi alat sederhana untuk mengendalikan asupan natrium. Konsumen sebaiknya melihat jumlah natrium per sajian, lalu memeriksa berapa banyak sajian yang sebenarnya mereka konsumsi. Satu kemasan kecil belum tentu hanya terdiri dari satu porsi. Selain itu, angka natrium harus dikalikan apabila seseorang menggunakan beberapa sachet sekaligus. FDA menyebut produk dengan lima persen nilai harian natrium atau kurang per sajian sebagai rendah natrium, sedangkan kandungan 20 persen atau lebih tergolong tinggi. Walaupun pedoman label setiap negara dapat berbeda, prinsipnya tetap sama: semakin besar persentase nilai harian, semakin besar pula kontribusi produk tersebut terhadap batas konsumsi. Kebiasaan membaca label membutuhkan waktu singkat, tetapi dapat membantu keluarga memilih saus, makanan beku, camilan, dan produk instan dengan kandungan natrium lebih rendah.
Mengurangi Saus Tidak Berarti Harus Kehilangan Kenikmatan Makan
Pesan utama dari peringatan Menkes bukanlah melarang masyarakat menikmati makanan favorit. Sebaliknya, masyarakat diajak membangun kebiasaan yang lebih sadar. Seseorang dapat mulai dengan menggunakan satu sachet saus, tidak langsung mengambil beberapa kemasan, atau mencicipi makanan sebelum menambahkan bumbu. Pilihan lain adalah menyeimbangkan makanan cepat saji dengan sayuran, buah, air putih, serta menu rendah natrium pada waktu makan berikutnya. Kementerian Kesehatan juga menyarankan pembatasan makanan cepat saji karena umumnya memiliki kandungan garam yang tinggi. Perubahan kecil terasa lebih realistis dan mudah dipertahankan dibandingkan larangan yang terlalu ketat. Ketika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga tekanan darah dan kesehatan jantung. Pada akhirnya, rasa nikmat tetap dapat dinikmati tanpa harus mengorbankan kesehatan dalam jangka panjang.