Jurnal Tempo – Kekuatan Rudal Iran Bertahan menjadi sorotan setelah serangan terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania menewaskan tiga personel militer Amerika Serikat. Serangan pada 17 Juli 2026 itu menjadi pukulan serius karena pangkalan tersebut dilindungi sistem pertahanan udara modern. Pentagon kemudian mengidentifikasi Sersan Angel S. Rampersad sebagai korban ketiga setelah sebelumnya dinyatakan hilang. Dua korban lainnya adalah Letnan Satu Tyler James Feehan dan Prajurit Isabella Gonzales. Serangan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian gempuran Iran terhadap fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Bagi keluarga korban, statistik militer itu berubah menjadi kehilangan nyata yang sulit digambarkan. Sementara itu, bagi Washington, keberhasilan rudal mencapai area hunian pasukan memunculkan pertanyaan besar: seberapa efektif kampanye udara sebelumnya dalam menghancurkan kemampuan serang Teheran?
Kheibar Shekan Diduga Menembus Pertahanan Pangkalan Amerika
Analis pertahanan menduga Iran menggunakan Kheibar Shekan, rudal balistik jarak menengah yang menjadi salah satu senjata paling berbahaya dalam persenjataan Teheran. Rudal berbahan bakar padat ini memiliki jangkauan sekitar 1.450 kilometer dan dapat disiapkan lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair. Sistem tersebut juga dapat dipasang pada kendaraan peluncur bergerak, sehingga lebih mudah disembunyikan dan dipindahkan sebelum serangan. Varian terbarunya disebut memiliki hulu ledak yang mampu bermanuver ketika memasuki fase akhir penerbangan. Kemampuan itu dirancang untuk menyulitkan radar dan sistem pencegat dalam memperkirakan titik jatuh. Meski belum ada konfirmasi publik yang sepenuhnya memastikan jenis rudal dalam serangan Yordania, karakter serangan tersebut dinilai sesuai dengan kemampuan Kheibar Shekan. Senjata ini menunjukkan bagaimana Iran mengutamakan mobilitas, kecepatan persiapan, dan kemampuan menembus pertahanan.
Baca Juga : FBI Kembalikan Artefak Papua ke Indonesia, Prabowo Terima Warisan Budaya Bersejarah dari Amerika Serikat
Serangan Berlapis Membuat Sistem Pertahanan Sulit Bernapas
Iran tidak hanya mengandalkan satu rudal canggih untuk menekan pertahanan lawan. Garda Revolusi Iran diketahui memadukan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone serang dalam gelombang yang datang dari arah serta ketinggian berbeda. Strategi ini dapat memaksa radar menghadapi banyak sasaran sekaligus dan membuat operator harus menentukan ancaman mana yang wajib dicegat terlebih dahulu. Rudal cepat seperti Kheibar Shekan dapat bergerak bersama drone Shahed yang lebih lambat, sementara rudal jelajah terbang rendah untuk menghindari deteksi awal. Dalam situasi seperti itu, pertahanan udara secanggih apa pun menghadapi risiko kehabisan amunisi pencegat atau terlambat membaca lintasan serangan. Beberapa laporan menyebut Iran turut menggunakan keluarga rudal Fattah, Zolfaghar, Fateh-110, Qiam, serta rudal jelajah Paveh. Kombinasi tersebut menjadikan setiap serangan bukan sekadar peluncuran senjata, melainkan operasi yang dirancang untuk membingungkan pertahanan.
Kota Rudal Bawah Tanah Menjaga Persenjataan Tetap Hidup
Salah satu alasan Iran masih mampu menyerang adalah keberadaan jaringan pangkalan rudal bawah tanah yang tersebar di wilayahnya. Kompleks ini sering digambarkan sebagai “kota rudal” karena memiliki terowongan panjang, ruang penyimpanan, jalur kendaraan, dan tempat persiapan peluncuran. Struktur yang berada jauh di bawah permukaan membuatnya lebih sulit dihancurkan melalui serangan udara biasa. Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menargetkan pintu terowongan, lokasi peluncur, serta fasilitas produksi rudal. Namun, menghancurkan akses masuk tidak selalu berarti seluruh persenjataan di dalamnya ikut musnah. Iran dapat membuka jalur alternatif, membersihkan puing, dan memperkuat kembali bagian yang rusak. Peluncur bergerak juga memungkinkan rudal dipindahkan dari satu fasilitas ke lokasi lain. Karena itu, kampanye udara dapat mengurangi kapasitas Iran, tetapi belum tentu menghapus kemampuannya untuk menyimpan, merakit, dan menembakkan senjata secara berkelanjutan.
Baca Juga :Anwar Ibrahim Menolak Tekanan AS soal Pembatasan Masuk Warga Israel ke Malaysia
Iran Memperbaiki Kerusakan Lebih Cepat dari Perkiraan
Setelah serangkaian serangan menghantam fasilitas militernya, Iran tampaknya segera memulai pekerjaan pemulihan. Citra satelit komersial yang dianalisis sejumlah pengamat menunjukkan aktivitas pembangunan kembali jalan akses serta penguatan pintu masuk terowongan di beberapa pangkalan. Kecepatan pemulihan ini memperlihatkan bahwa Iran telah mempersiapkan sistem logistik untuk menghadapi perang berkepanjangan. Negara tersebut tidak hanya menyimpan rudal, tetapi juga menyimpan komponen, kendaraan peluncur, bahan bakar padat, dan peralatan teknik di berbagai lokasi. Penyebaran aset membuat lawan sulit menghancurkan seluruh kemampuan dalam satu gelombang serangan. Selain itu, rudal berbahan bakar padat dapat disimpan dalam kondisi siap pakai lebih lama. Strategi tersebut memberi Iran waktu untuk memindahkan aset sebelum serangan berikutnya tiba. Dengan demikian, ketahanan program rudal Iran bertumpu pada kemampuan memperbaiki, menyebarkan, dan mengganti fasilitas yang rusak secara cepat.
Teknologi Asing Diduga Meningkatkan Ketepatan Serangan Iran
Kemampuan Iran mengenai target militer dengan lebih akurat juga dikaitkan dengan perkembangan sistem navigasi, perangkat elektronik, dan akses terhadap citra satelit. Beberapa analis menyebut rudal Iran kini dapat menggunakan gabungan sistem navigasi satelit seperti GPS, BeiDou, dan Glonass. Pendekatan tersebut memberikan jalur cadangan ketika salah satu sinyal terganggu atau diblokir. Selain itu, komponen elektronik buatan luar negeri diduga membantu meningkatkan kemampuan pemrosesan dan koreksi lintasan. Laporan lain menyoroti kemungkinan penggunaan citra satelit komersial untuk memperbarui informasi mengenai lokasi sasaran. Namun, tingkat keterlibatan langsung negara lain masih diperdebatkan dan tidak seluruh klaim dapat diverifikasi secara independen. Yang terlihat jelas adalah perubahan kualitas serangan Iran. Rudalnya kini tidak hanya digunakan untuk menimbulkan tekanan psikologis, tetapi juga diarahkan pada fasilitas penting, area pasukan, dan infrastruktur yang memiliki nilai operasional tinggi.
Perang Rudal Berubah Menjadi Perlombaan Daya Tahan
Pertanyaan terbesar bukan lagi apakah Amerika Serikat dapat menghancurkan sejumlah pangkalan dan peluncur Iran, melainkan apakah serangan tersebut mampu berlangsung lebih cepat daripada proses pemulihan Teheran. Iran diperkirakan memasuki konflik dengan ribuan rudal jarak menengah serta cadangan komponen yang dapat dirakit secara bertahap. Walaupun fasilitas produksi mengalami kerusakan, persenjataan yang telah disimpan sebelumnya masih dapat digunakan. Di sisi lain, sistem pertahanan Amerika juga menghadapi tekanan karena setiap rudal pencegat memiliki harga tinggi dan persediaannya tidak tidak terbatas. Iran dapat memilih senjata yang lebih murah, lalu meluncurkannya dalam jumlah besar untuk menguras pertahanan lawan. Inilah alasan kekuatan Iran tetap terasa meskipun militernya berulang kali digempur. Teheran tidak perlu memenangkan setiap pertempuran. Iran hanya perlu mempertahankan cukup banyak rudal, peluncur, dan jaringan komando untuk terus menimbulkan risiko nyata bagi pasukan Amerika.