Jurnal Tempo – Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung kembali membawa harapan perdamaian ke Semenanjung Korea. Dalam pidato peringatan pembebasan Korea dari penjajahan Jepang, Lee mengusulkan pembicaraan resmi dengan Korea Utara untuk mengakhiri konflik yang belum pernah ditutup melalui perjanjian damai. Perdamaian Korea Selatan Korut pun kembali menjadi perhatian karena kedua negara secara teknis masih berada dalam keadaan perang. Lee mengajak kedua pihak meninggalkan keinginan untuk saling mengancam dan mulai berbicara sebagai pihak yang terlibat langsung. Selain membahas berakhirnya perang, dialog tersebut diharapkan membuka ruang untuk menahan perkembangan kemampuan nuklir Korea Utara. Namun, jalan menuju meja perundingan masih panjang. Pyongyang belum memberikan tanggapan positif terhadap tawaran Seoul. Di tengah ketegangan kawasan, ajakan Lee menjadi sinyal bahwa pemerintah Korea Selatan ingin mencoba jalur diplomasi yang lebih terbuka.
Perang Korea Berhenti Bertempur tetapi Belum Benar-Benar Berakhir
Sejarah panjang konflik membuat tawaran tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar agenda diplomatik. Perang Korea pecah pada 1950 setelah pasukan Korea Utara menyerang wilayah Selatan. Pertempuran berlangsung selama tiga tahun dan melibatkan kekuatan internasional. Namun, ketika senjata akhirnya berhenti pada 1953, kedua pihak hanya memiliki kesepakatan gencatan senjata. Tidak pernah ada perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri perang. Karena itu, Perdamaian Korea Selatan Korut tetap menjadi persoalan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Situasi tersebut juga menjelaskan mengapa perbatasan kedua negara masih dijaga sangat ketat hingga sekarang. Bagi masyarakat Korea, konflik ini bukan hanya catatan dalam buku sejarah. Banyak keluarga pernah terpisah dan kehilangan kesempatan bertemu kembali. Oleh sebab itu, perjanjian damai berpotensi membawa arti politik sekaligus emosional bagi masyarakat di kedua sisi perbatasan.
Baca Juga : Gelombang Panas Perancis Memburuk, 70 Persen Wilayah Hadapi Pembatasan Air
Kebijakan Seoul Berubah Sejak Lee Jae-myung Memimpin
Sejak menjabat pada Juni 2025, Lee Jae-myung memilih pendekatan yang berbeda terhadap Pyongyang. Pemerintahannya mulai meninggalkan pendekatan keras yang lebih menekankan tekanan kepada Korea Utara. Sebaliknya, Seoul menawarkan pembicaraan tanpa prasyarat untuk membuka kembali komunikasi yang lama membeku. Perubahan itu semakin terlihat pada Juli 2026. Menteri Unifikasi Korea Selatan menyatakan pemerintah tidak lagi menjadikan tekanan denuklirisasi sebagai satu-satunya pintu masuk menuju dialog. Kini, Seoul juga menaruh perhatian pada upaya menghentikan perluasan aktivitas nuklir Pyongyang. Pendekatan Perdamaian Korea Selatan Korut tersebut menunjukkan strategi yang lebih bertahap. Pemerintah ingin membangun komunikasi sebelum memasuki persoalan keamanan yang jauh lebih rumit. Meski demikian, strategi baru tidak otomatis menghasilkan respons dari Korea Utara. Pyongyang masih belum menyambut berbagai tawaran pembicaraan yang disampaikan Seoul, sehingga keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada perubahan sikap dari Utara.
Program Nuklir Korea Utara Menjadi Tantangan Terberat
Persoalan nuklir tetap menjadi hambatan besar bagi setiap upaya memperbaiki hubungan kedua Korea. Pyongyang terus menegaskan bahwa statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diubah. Sikap tersebut semakin kuat setelah pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump di Hanoi pada 2019 gagal menghasilkan kesepakatan. Ketika itu, perundingan menemui jalan buntu mengenai cakupan denuklirisasi dan pelonggaran sanksi. Sejak saat itu, jarak diplomatik kembali melebar. Pemerintah Lee tampaknya memahami bahwa menjadikan pelucutan nuklir total sebagai syarat awal dapat membuat dialog sulit dimulai. Karena itu, Perdamaian Korea Selatan Korut diarahkan terlebih dahulu untuk menurunkan ancaman dan membangun komunikasi. Dari sana, Seoul berharap pembahasan mengenai perkembangan kemampuan nuklir dapat dilakukan secara bertahap. Strategi tersebut memang tidak menjamin keberhasilan, tetapi menawarkan jalur berbeda setelah pendekatan sebelumnya berkali-kali menemui kebuntuan.
Baca Juga :Negara Teluk Hadapi Dilema Hormuz, Kendali Iran Dinilai Lebih Baik daripada Perang Baru
Ketegangan Militer Masih Membayangi Tawaran Perdamaian
Di balik pesan damai Seoul, situasi keamanan kawasan tetap penuh tekanan. Korea Utara mengecam rencana latihan militer tahunan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Pyongyang bahkan memperingatkan kemungkinan mengambil langkah pencegahan yang lebih kuat. Pada saat bersamaan, Korea Utara juga menunjukkan keberatan terhadap peningkatan kemampuan pertahanan Jepang di kawasan Pasifik. Peluncuran rudal yang dilakukan Pyongyang semakin menegaskan bahwa ketegangan belum mereda. Kondisi ini membuat Perdamaian Korea Selatan Korut menghadapi ujian nyata. Seoul harus menjaga kemampuan pertahanan dan hubungannya dengan sekutu, tetapi pada saat yang sama perlu meyakinkan Pyongyang bahwa dialog tetap memiliki manfaat. Situasi tersebut menciptakan keseimbangan yang sulit. Satu tindakan militer dapat dipandang sebagai ancaman oleh pihak lain, lalu memicu respons berikutnya. Karena itulah, komunikasi menjadi penting untuk mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi krisis keamanan yang lebih besar.
Hubungan Korea Utara dan Rusia Mengubah Peta Diplomasi
Upaya Seoul juga berlangsung ketika hubungan Korea Utara dengan Rusia semakin dekat. Pyongyang disebut memperkuat kerja sama militernya dengan Moskwa di tengah perang Ukraina. Para analis menyebut Korea Utara memperoleh berbagai manfaat sebagai imbalan atas pasokan pasukan dan amunisi. Dukungan tersebut disebut dapat berupa bantuan finansial, pangan, energi, hingga teknologi militer. Perkembangan ini membuat Perdamaian Korea Selatan Korut semakin kompleks karena keputusan Pyongyang tidak hanya dipengaruhi dinamika di Semenanjung Korea. Hubungan dengan Rusia dapat memberikan ruang strategis lebih besar kepada Korea Utara ketika menghadapi tekanan internasional. Pada sisi lain, Seoul perlu mempertimbangkan kepentingan Amerika Serikat, Jepang, China, dan Rusia dalam setiap langkah diplomatiknya. Dengan demikian, pembicaraan damai tidak berdiri dalam ruang kosong. Perubahan hubungan antarnegara dapat menentukan seberapa jauh kedua Korea memiliki kesempatan untuk mengubah permusuhan panjang menjadi komunikasi yang lebih stabil.
Harapan Mengakhiri Perang yang Membayangi Beberapa Generasi
Tawaran Lee Jae-myung belum menjamin bahwa perjanjian damai akan segera lahir. Namun, gagasan untuk membicarakan akhir resmi Perang Korea memiliki arti besar setelah lebih dari tujuh dekade ketidakpastian. Jika dialog benar-benar berlangsung, kedua pihak dapat mulai membahas pengurangan ketegangan, komunikasi militer, hingga kerja sama kemanusiaan. Perdamaian Korea Selatan Korut juga dapat membuka harapan baru bagi keluarga yang hidup dengan warisan perpecahan sejak perang. Meski demikian, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa hubungan kedua negara dapat berubah dengan cepat. Periode dialog beberapa kali berakhir dengan ketegangan baru ketika kepentingan keamanan tidak menemukan titik temu. Karena itu, proses damai membutuhkan langkah kecil yang konsisten dan kepercayaan yang dibangun secara perlahan. Di tengah perbedaan politik dan persoalan nuklir, tawaran Seoul setidaknya membuka kembali satu pertanyaan penting: mungkinkah perang yang tidak pernah resmi berakhir akhirnya benar-benar ditutup?