Jurnal Tempo – Di pegunungan barat daya Taiz, dengungan drone bukan lagi suara asing bagi mereka yang bertahan di sekitar garis depan. Seorang prajurit pro-pemerintah bahkan menyebut kemunculan drone sering menjadi pertanda bahwa serangan akan segera menyusul. Ketika suara itu terdengar semakin kuat, rombongan BBC yang mengikuti pasukan pemerintah berlindung sebelum meninggalkan lokasi. Sekitar sepuluh menit kemudian, dentuman keras terdengar secara beruntun dari kejauhan. Tidak jelas titik ledakannya, tetapi suara tersebut cukup menggambarkan rapuhnya rasa aman di kawasan itu. Garis pemisah antara wilayah yang dikuasai pasukan pemerintah dan Houthi juga sulit dikenali. Rumah-rumah warga masih berdiri di lereng perbukitan, tetapi sebagian besar telah kosong. Penghuninya memilih pergi demi menyelamatkan diri. Di tengah kesunyian tersebut, suara ternak dan tembakan menjadi pengingat bahwa kehidupan normal telah digantikan oleh ketidakpastian yang hadir setiap hari.
Ali Memilih Bertahan Demi Kambing yang Menopang Kehidupan
Sekitar satu kilometer dari garis depan, seorang warga bernama Ali masih bertahan di rumahnya bersama kambing-kambing yang menjadi sumber penghidupan keluarga. Dua tembakan mortir pernah jatuh di lahannya, tetapi ancaman itu belum membuatnya pergi. Ali telah memindahkan anak-anaknya ke kamp pengungsian karena mereka tidak lagi sanggup menghadapi trauma akibat pengeboman dan suara tembakan. Kini, hanya Ali, istrinya, dan saudari perempuannya yang tetap tinggal. Keputusan tersebut bukan muncul karena mereka merasa aman. Sebaliknya, Ali mengaku sangat takut. Namun, meninggalkan ternak berarti kehilangan sumber makanan dan penghasilan yang menopang keluarganya. Di tengah konflik Yaman di Taiz, pilihan antara keselamatan dan bertahan hidup menjadi semakin tipis. Ali bahkan memilih tidak mengungkap nama lengkapnya karena khawatir menghadapi pembalasan apabila wilayah tersebut nantinya jatuh ke tangan Houthi. Ketakutan itu kini menjadi bagian dari kesehariannya.
Baca Juga : Trump Ubah Istilah AI Menjadi SI, Pemerintah AS Mulai Terapkan Nama Baru
Rumah-Rumah Kosong Menunjukkan Besarnya Luka Warga Sipil
Perjalanan menuju garis depan memperlihatkan pemandangan yang menggambarkan dampak perang tanpa perlu banyak kata. Deretan rumah masih berdiri di sepanjang lereng, tetapi mayoritas tidak lagi dihuni. Banyak keluarga telah meninggalkan tempat tinggal mereka setelah pertempuran mendekat. Jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan dan aktivitas warga berubah menjadi ruang yang sunyi. Tidak terdengar suara mobil atau sepeda motor seperti dalam kehidupan kota sehari-hari. Sebaliknya, suara hewan ternak bercampur dengan dentuman tembakan dari kedua pihak. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana konflik mengubah lingkungan tempat warga membangun kehidupan selama bertahun-tahun. Mereka yang pergi menghadapi ketidakpastian sebagai pengungsi, sedangkan orang seperti Ali bertahan dengan risiko serangan yang dapat datang kapan saja. Tidak ada pilihan yang benar-benar mudah. Di kawasan yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pertempuran, rumah tidak lagi selalu berarti tempat berlindung. Bagi sebagian warga, rumah justru berada tepat di tengah ancaman.
Pasukan Houthi dan Pemerintah Bersiap Menghadapi Pertempuran Baru
Ketegangan di sekitar Taiz meningkat ketika pasukan Houthi bergerak memperkuat posisi mereka. Menurut laporan yang menjadi dasar pemberitaan, sumber dari pihak Houthi mengonfirmasi bahwa kelompok tersebut sedang menghimpun kekuatan untuk serangan besar. Pasukan pro-pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi juga menyatakan kesiapan menghadapi ancaman itu. Kondisi tersebut membuat warga di sekitar garis depan semakin sulit memperkirakan apa yang akan terjadi berikutnya. Awal bulan itu, Houthi disebut bergerak cepat menguasai wilayah pesisir Laut Merah dan mengambil kendali jalur pelayaran penting. Pertempuran di sekitar Taiz kemudian semakin intensif setelah kelompok tersebut merebut pelabuhan strategis Mokha pada 10 September. Pelabuhan itu berada sekitar 85 kilometer di sebelah barat Taiz. Perubahan situasi terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata yang telah bertahan selama empat tahun gagal dipertahankan. Kini, ancaman pertempuran terbuka kembali membayangi penduduk sipil.
Baca Juga : Xi Jinping Hadiri Jamuan Makan Malam Mewah Trump di Gedung Putih
Jasad Prajurit Tak Bisa Dievakuasi dari Area Pertempuran
Kerasnya pertempuran juga terlihat dari cerita para prajurit yang baru kembali dari posisi di puncak gunung. Lokasi mereka hanya berjarak beberapa ratus meter dari pasukan Houthi yang terus bergerak maju. Salah seorang prajurit mengatakan terdapat jasad 18 anggota pasukan pemerintah di area yang masih berada dalam jangkauan tembakan. Kondisi medan membuat mereka tidak dapat melakukan evakuasi dengan aman. Para tentara tetap melepaskan tembakan melintasi kawasan tersebut, sementara rekan-rekan mereka yang gugur belum dapat dibawa keluar. Cerita itu menunjukkan betapa dekatnya jarak pertempuran dan tingginya risiko bagi siapa pun yang mencoba bergerak di wilayah terbuka. Bagi warga sipil yang tinggal tidak jauh dari sana, situasi tersebut tentu menambah rasa takut. Setiap pergeseran posisi pasukan dapat membawa pertempuran semakin dekat ke rumah mereka. Di medan seperti ini, batas antara kehidupan sipil dan zona perang semakin sulit dipisahkan.
Gagalnya Gencatan Senjata Menghidupkan Kembali Ketakutan Lama
Pertempuran terbaru terasa semakin berat karena muncul setelah periode gencatan senjata yang disebut telah bertahan selama empat tahun. Ketika kesepakatan tersebut gagal, warga kembali menghadapi ketakutan yang sebelumnya sempat mereda. Perebutan Mokha mempercepat eskalasi karena pelabuhan itu memiliki posisi strategis di pesisir Laut Merah. Setelah Houthi mengambil alih wilayah tersebut, tekanan terhadap kawasan sekitar Taiz ikut meningkat. Bagi masyarakat sipil, perubahan peta kekuasaan bukan sekadar persoalan politik atau militer. Setiap kemajuan pasukan dapat berarti keluarga harus mengungsi, lahan pertanian ditinggalkan, atau sumber penghidupan terputus. Sementara itu, mereka yang memilih bertahan harus hidup bersama kemungkinan serangan drone, mortir, dan tembakan. Pengalaman Ali menunjukkan bagaimana konflik memaksa seseorang membuat keputusan yang seharusnya tidak perlu dibuat. Ia mengetahui bahayanya, tetapi meninggalkan ternak juga dapat membawa keluarganya menuju kesulitan lain berupa kelaparan dan kehilangan mata pencaharian.
Taiz Menjadi Potret Warga yang Terjebak di Antara Dua Pilihan
Di balik pergerakan pasukan dan perebutan wilayah, kehidupan warga sipil menjadi bagian paling manusiawi dari cerita Taiz. Ali tidak berbicara tentang strategi militer atau kemenangan politik. Ia hanya ingin menjaga ternaknya agar keluarganya tetap memiliki sumber kehidupan. Anak-anaknya telah pergi karena trauma, sementara dirinya memilih tinggal meskipun mortir pernah menghantam lahannya. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana perang mengubah keputusan sederhana menjadi persoalan hidup dan mati. Pergi berarti meninggalkan rumah dan mata pencaharian. Bertahan berarti menerima kemungkinan bahwa serangan berikutnya dapat jatuh lebih dekat. Sementara kedua pihak mempersiapkan kemungkinan pertempuran besar, warga di garis depan hanya dapat menunggu perkembangan yang sulit mereka kendalikan. Taiz akhirnya bukan sekadar titik dalam peta konflik Yaman. Kota dan pegunungan di sekitarnya menjadi gambaran tentang manusia biasa yang mencoba mempertahankan kehidupan ketika keamanan, rumah, dan masa depan terus berada dalam ketidakpastian.