Jurnal Tempo – Sanksi AS penerbangan Iran kembali menjadi perhatian setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent membahas dampaknya terhadap perjalanan internasional Iran. Ia bahkan mempertanyakan bagaimana delegasi Iran yang menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York akan kembali ke negaranya. Pernyataan tersebut muncul setelah Washington memperketat tekanan terhadap sektor penerbangan Iran. Sejumlah rute internasional kemudian mengalami pembatalan atau penghentian. Namun, penerbangan dari Iran belum berhenti sepenuhnya. Beberapa pesawat masih terpantau menuju sejumlah negara. Situasi ini menunjukkan bahwa sanksi memiliki dampak nyata terhadap konektivitas udara, tetapi penerapannya berbeda di setiap negara dan penyedia layanan penerbangan.
Bessent Pertanyakan Cara Delegasi Iran Kembali dari New York
Scott Bessent membahas kondisi penerbangan Iran dalam wawancara dengan Fox News pada Rabu, 23 September 2026. Menurut perkiraannya, lebih dari 80 hingga 90 persen penerbangan eksternal Iran telah berhenti. Setelah menyampaikan angka tersebut, Bessent mempertanyakan bagaimana perwakilan Iran yang menghadiri Sidang Umum PBB akan pulang. Pernyataan itu menggambarkan tingkat tekanan yang ingin ditunjukkan Washington melalui kebijakan ekonominya. Namun, angka 80–90 persen tersebut merupakan pernyataan Bessent, bukan penghitungan independen atas seluruh penerbangan internasional Iran. Data penerbangan pada hari yang sama masih menunjukkan beberapa rute tetap beroperasi.
Sanksi AS Penerbangan Iran Menargetkan Jaringan Lebih Luas
Tekanan terhadap sektor penerbangan Iran telah diperkuat sejak awal September. Departemen Keuangan AS melalui Office of Foreign Assets Control menjatuhkan sanksi terhadap 36 target pada 8 September. Dari jumlah tersebut, 27 merupakan maskapai Iran yang ditetapkan berdasarkan kebijakan Washington terhadap sektor penerbangan negara tersebut. Pemerintah AS menyatakan langkah itu diarahkan untuk membatasi jaringan yang menurut Washington digunakan Iran untuk pengadaan pesawat, teknologi, serta aktivitas lain yang dikaitkan dengan pemerintah Iran. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari kampanye yang disebut Operation Economic Outcast. Namun, Iran dan sejumlah negara lain menolak pendekatan sanksi sepihak AS.
Perusahaan Asing Menghadapi Risiko Sanksi Sekunder
Dampak kebijakan Washington tidak berhenti pada maskapai Iran. Perusahaan asing yang menyediakan layanan kepada maskapai yang terkena sanksi juga menghadapi risiko. Pemerintah AS memperingatkan bahwa layanan seperti penanganan darat, penjualan tiket, penyediaan bahan bakar, hingga dukungan operasional dapat menimbulkan konsekuensi berdasarkan rezim sanksinya. Bessent sebelumnya menjelaskan bahwa perusahaan yang tetap memberikan layanan berisiko kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar AS. Mekanisme tersebut membuat kebijakan Washington memiliki pengaruh di luar wilayah Amerika Serikat. Bagi perusahaan internasional, keputusan untuk tetap melayani maskapai Iran akhirnya tidak hanya berkaitan dengan aspek penerbangan, tetapi juga akses terhadap jaringan keuangan global.
Baca juga: Pemerintah Matangkan Skema Pendidikan Negeri Gratis dari TK hingga Perguruan Tinggi
Sejumlah Rute Internasional Mulai Mengalami Gangguan
Dampak pembatasan terlihat pada beberapa rute regional. Azerbaijan menyatakan penerbangan maskapai Iran menuju negara tersebut dihentikan mulai 22 September. Laporan AFP juga mencatat Georgia menghentikan sejumlah koneksi terkait maskapai Iran. Selain itu, agen perjalanan di Teheran melaporkan pembatalan penerbangan menuju Baghdad dan Muscat. Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi dapat berpengaruh langsung terhadap mobilitas udara. Namun, penyebab setiap pembatalan tetap perlu dilihat berdasarkan kebijakan negara dan operator terkait. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh penerbangan internasional Iran telah berhenti hanya berdasarkan beberapa rute yang dibatalkan.
Beberapa Penerbangan Iran Masih Terpantau Beroperasi
Meski pembatasan semakin luas, penerbangan internasional Iran belum berhenti total. Data pelacakan penerbangan menunjukkan beberapa pesawat masih meninggalkan Iran setelah tenggat yang disampaikan Washington. Rute menuju beberapa kota di Asia tetap terpantau. Salah satunya adalah penerbangan Mahan Air dari Teheran menuju Guangzhou, China. Jadwal penerbangan menuju Shanghai juga masih muncul. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa efektivitas sanksi sangat bergantung pada respons negara tujuan, bandara, penyedia bahan bakar, serta perusahaan pendukung lainnya. Dengan kata lain, Washington dapat memberikan tekanan ekonomi, tetapi implementasinya pada jaringan penerbangan internasional tetap melibatkan banyak yurisdiksi.
China Menolak Pendekatan Sanksi Sepihak Washington
China mengambil posisi berbeda dari Amerika Serikat mengenai pembatasan terhadap Iran. Beijing secara konsisten menentang sanksi sepihak yang tidak mendapatkan mandat Dewan Keamanan PBB. Dalam konteks penerbangan, hubungan udara antara Iran dan China menjadi salah satu jalur yang masih mendapat perhatian setelah pembatasan AS diperketat. Perbedaan posisi tersebut memperlihatkan batas kompleks dari kebijakan sanksi sekunder. Washington memiliki pengaruh besar melalui sistem keuangan dolar. Namun, negara lain tetap dapat memiliki pandangan hukum dan politik yang berbeda mengenai penerapan kebijakan tersebut. Oleh sebab itu, dampak sanksi tidak selalu seragam di setiap kawasan.
Delegasi Iran Mendapat Akses Terbatas Selama Sidang PBB
Delegasi utama Iran tetap diizinkan memasuki Amerika Serikat untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Pemerintah AS menyatakan keputusan tersebut berkaitan dengan kewajibannya sebagai negara tuan rumah markas besar PBB. Delegasi itu mencakup Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Namun, Washington memberlakukan pembatasan perjalanan selama mereka berada di New York. Pergerakan delegasi dibatasi pada sejumlah lokasi yang berkaitan dengan kegiatan PBB dan perjalanan diplomatik. Situasi tersebut menciptakan kondisi yang tidak biasa. Di satu sisi, pejabat Iran dapat menghadiri forum internasional. Di sisi lain, sektor penerbangan negaranya sedang menghadapi tekanan ekonomi yang semakin ketat dari pemerintah AS.
Penerbangan Menjadi Bagian dari Strategi Tekanan Ekonomi
Sektor penerbangan memiliki posisi penting dalam hubungan ekonomi sebuah negara dengan dunia luar. Maskapai membutuhkan akses terhadap bandara, bahan bakar, layanan teknis, suku cadang, sistem pembayaran, dan penyedia jasa internasional. Karena itu, pembatasan pada satu bagian jaringan dapat memberikan efek berantai terhadap operasional lainnya. Pemerintah AS memanfaatkan keterhubungan tersebut sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap Teheran. Menurut Washington, sektor penerbangan Iran juga digunakan untuk mendukung aktivitas pemerintah dan Korps Garda Revolusi Islam. Pemerintah Iran telah lama membantah sejumlah tuduhan AS dan menilai berbagai sanksi Washington sebagai tekanan ekonomi terhadap negaranya.
Dampak Pembatasan Juga Dapat Menjangkau Penumpang Sipil
Di luar persaingan geopolitik, perubahan jaringan penerbangan dapat berdampak langsung kepada masyarakat. Pembatalan rute membuat penumpang harus mencari jalur alternatif. Waktu perjalanan dapat menjadi lebih panjang, sedangkan biaya berpotensi meningkat ketika pilihan penerbangan berkurang. Warga Iran yang melakukan perjalanan untuk bekerja, belajar, mengunjungi keluarga, atau mendapatkan layanan tertentu juga dapat menghadapi kendala tambahan. Inilah salah satu sisi yang perlu diperhatikan ketika membahas sanksi ekonomi. Kebijakan memang diarahkan kepada pemerintah atau entitas tertentu. Namun, gangguan terhadap transportasi komersial dapat menghasilkan konsekuensi yang lebih luas terhadap mobilitas masyarakat.
Efektivitas Sanksi Bergantung pada Respons Banyak Negara
Sanksi AS penerbangan Iran memperlihatkan bagaimana kekuatan ekonomi Washington dapat memengaruhi keputusan perusahaan dan negara lain. Namun, perkembangan pada 23 September juga menunjukkan bahwa operasional penerbangan belum berhenti sepenuhnya. Beberapa negara membatasi akses maskapai Iran, sedangkan jalur lain masih tersedia. Karena itu, efektivitas kebijakan tersebut tidak dapat dinilai hanya dari pernyataan satu pemerintah. Data penerbangan aktual, keputusan negara tujuan, serta respons perusahaan internasional perlu diamati bersama. Dalam beberapa hari berikutnya, perubahan jaringan penerbangan akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai seberapa luas dampak sanksi terhadap konektivitas Iran dengan dunia internasional.