Jurnal Tempo – Gerakan Mahasiswa Gen Z menciptakan malam bersejarah di Serbia setelah mengklaim kemenangan dalam pemilu parlemen, Minggu, 25 Oktober 2026. Kemenangan tersebut menjadi titik balik setelah Partai Progresif Serbia mendominasi politik negara itu selama 14 tahun. Hanya beberapa jam setelah pemungutan suara selesai, Aleksandar Vucic mengakui kekalahan kubunya. Hasil sementara menunjukkan kelompok mahasiswa berpeluang menguasai 135 hingga 140 dari 250 kursi parlemen. Angka itu cukup untuk membentuk mayoritas mutlak. Bagi para pendukung gerakan, hasil tersebut bukan sekadar pergantian kekuatan politik. Kemenangan itu menjadi jawaban atas perjuangan panjang yang memenuhi jalan-jalan Serbia selama hampir dua tahun. Ribuan orang turun ke pusat Belgrade untuk merayakannya. Suara klakson, sorakan, dan kembang api kemudian mengubah malam pemilu menjadi perayaan penuh emosi bagi generasi yang selama ini menuntut perubahan.
Perayaan Pecah di Jalanan Belgrade
Kabar kemenangan segera mengubah suasana Belgrade menjadi pesta besar. Ribuan pendukung mahasiswa memenuhi jalan dan merayakan hasil yang selama berbulan-bulan mereka perjuangkan. Kendaraan membunyikan klakson, sedangkan kembang api menerangi langit ibu kota Serbia. Bagi sebagian mahasiswa, malam tersebut terasa seperti akhir dari perjalanan panjang yang penuh tekanan. Namun, bagi yang lain, malam itu justru menjadi awal dari babak baru. Seorang mahasiswa bernama Mila Martic menggambarkan perasaannya sebagai pengalaman luar biasa. Ia merasa seolah akhirnya hidup di negara yang merdeka. Ungkapan itu memperlihatkan betapa dalam makna kemenangan tersebut bagi para pendukung gerakan. Mereka tidak hanya menginginkan pergantian pemerintahan. Mereka juga membawa harapan tentang keadilan, kebebasan, dan kehidupan politik yang lebih terbuka. Di tengah keramaian, wajah-wajah muda menjadi simbol bahwa generasi baru Serbia mulai menuntut ruang lebih besar dalam menentukan masa depan negaranya.
Baca Juga : Selamat Usai Jatuh dari Lantai 35, Influencer China Bagikan Perjuangan untuk Pulih
Tragedi Novi Sad Menjadi Awal Gelombang Perlawanan
Perjalanan menuju kemenangan tersebut bermula jauh sebelum hari pemungutan suara. Pada 2024, atap beton di stasiun kereta api Novi Sad runtuh dan menewaskan 16 orang. Tragedi itu memicu kemarahan publik serta tuduhan mengenai korupsi dan buruknya tata kelola. Mahasiswa kemudian turun ke jalan dengan tuntutan yang awalnya sederhana. Mereka meminta penyelidikan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, tuntutan itu berkembang ketika ketidakpuasan masyarakat semakin besar. Demonstrasi meluas dan berubah menjadi salah satu gerakan antipemerintah terbesar di Serbia dalam beberapa dekade. Bagi banyak anak muda, para korban Novi Sad bukan sekadar angka dalam berita. Tragedi tersebut menjadi simbol dari sistem yang mereka anggap perlu diperbaiki. Dari kampus, jalan raya, hingga pusat kota, mahasiswa terus menjaga isu itu tetap hidup. Tekanan yang awalnya meminta transparansi akhirnya berkembang menjadi desakan untuk mempercepat pemilihan umum.
Mahasiswa Membawa Perjuangan Langsung kepada Pemilih
Gerakan mahasiswa tidak hanya mengandalkan demonstrasi besar di pusat kota. Selama hampir dua tahun, mereka juga bergerak ke berbagai wilayah Serbia dan berbicara langsung dengan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi penting karena kelompok mahasiswa harus menghadapi pengaruh media yang dinilai dekat dengan Partai Progresif Serbia. Mereka memilih bertemu pemilih secara langsung dan menjelaskan alasan perubahan politik diperlukan. Strategi itu membuat gerakan berkembang melampaui lingkungan kampus. Dukungan datang dari warga dengan latar belakang dan usia yang beragam. Menjelang pemilu, kekuatan gerakan semakin terlihat. Sekitar 150.000 orang dilaporkan menghadiri demonstrasi terakhir di Belgrade pada Kamis, 22 Oktober 2026, menurut pemantau independen. Kerumunan besar itu menunjukkan bahwa energi perubahan tidak lagi terbatas pada mahasiswa. Gerakan tersebut telah menjadi ruang bagi masyarakat yang merasa suara mereka selama ini kurang terdengar dalam kehidupan politik Serbia.
Baca Juga :Perubahan Definisi Korupsi Dibahas DEN dan Yusril, Apa Arahnya?
Gen Z Mengubah Demonstrasi Menjadi Kekuatan Politik
Salah satu bagian paling menarik dari perubahan Serbia adalah peran generasi muda. Gen Z yang sebelumnya memenuhi jalan kini memasuki arena politik secara langsung. Mereka mengubah kemarahan publik menjadi gerakan terorganisasi yang mampu bersaing dalam pemilu. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Mahasiswa harus mempertahankan perhatian masyarakat, membangun jaringan, dan menghadapi tekanan politik selama berbulan-bulan. Mereka juga perlu meyakinkan pemilih bahwa gerakan protes dapat berubah menjadi pilihan politik yang nyata. Hasil sementara menunjukkan strategi tersebut berhasil. Kandidat Students’ List, Radomir Saicic, menyebut mahasiswa unggul meyakinkan di hampir seluruh tempat pemungutan suara. Sementara itu, kandidat lainnya, Mirjana Nikolic, menggambarkan kemenangan tersebut sebagai terwujudnya impian yang diperjuangkan selama dua tahun. Perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana generasi muda dapat bergerak dari jalanan menuju parlemen ketika ketidakpuasan berhasil diubah menjadi partisipasi politik.
Kekalahan Mengakhiri Dominasi Panjang Partai Progresif
Hasil pemilu juga menandai berakhirnya satu periode panjang dalam politik Serbia. Partai Progresif Serbia telah mendominasi pemerintahan selama sekitar 14 tahun. Aleksandar Vucic menjadi figur utama dalam periode tersebut dan memiliki pengaruh besar terhadap arah politik nasional. Namun, tekanan dari demonstrasi mahasiswa terus meningkat. Setelah berbulan-bulan menghadapi gelombang protes, pemilu akhirnya dijadwalkan lebih cepat. Vucic juga meninggalkan jabatan presiden untuk maju sebagai kandidat perdana menteri. Akan tetapi, hasil pemungutan suara justru memperlihatkan besarnya dorongan publik terhadap perubahan. Pengakuan kekalahan yang datang tidak lama setelah TPS ditutup memperkuat kesan bahwa pergeseran politik terjadi dengan sangat jelas. Bagi kelompok mahasiswa, kemenangan ini membuktikan bahwa protes yang berlangsung panjang dapat menghasilkan perubahan melalui pemilu. Sementara bagi Partai Progresif, hasil tersebut menjadi akhir dari dominasi yang selama bertahun-tahun membentuk lanskap politik Serbia.
Serbia Kini Memasuki Babak Politik yang Berbeda
Euforia kemenangan belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai masa depan Serbia. Menguasai mayoritas parlemen berbeda dengan memimpin pemerintahan setiap hari. Gerakan mahasiswa kini menghadapi tantangan untuk mengubah tuntutan jalanan menjadi kebijakan yang nyata. Mereka harus menjaga kepercayaan publik sekaligus membuktikan kemampuan mengelola negara. Selain itu, tuntutan tentang transparansi, kebebasan, dan keadilan akan menjadi ukuran penting bagi pemerintahan baru. Harapan masyarakat sudah terlanjur tinggi setelah perjuangan panjang tersebut. Karena itu, kemenangan besar juga membawa tanggung jawab yang besar. Meski demikian, pemilu 25 Oktober 2026 telah menciptakan perubahan yang sulit diabaikan. Generasi yang sebelumnya berdiri di tengah kerumunan demonstrasi kini memiliki peluang menentukan arah pemerintahan. Dari tragedi Novi Sad hingga pesta kemenangan di Belgrade, perjalanan itu menunjukkan bagaimana kemarahan, keberanian, dan harapan anak muda dapat berkembang menjadi kekuatan politik.