Jurnal Tempo – Kampanye menjelang pemilu legislatif Israel pada 27 Oktober 2026 memasuki fase yang semakin panas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi persaingan ketat dari Gadi Eisenkot, rival utama dari kelompok kanan-tengah. Namun, pertarungan politik kali ini tidak hanya berlangsung melalui pidato dan pertemuan dengan pendukung. Kecerdasan buatan mulai mengambil peran besar dalam perang pesan di media sosial. Kedua kubu menggunakan video dan gambar hasil rekayasa AI untuk menyerang lawan sekaligus membentuk pandangan pemilih. Akibatnya, batas antara kritik politik, satire, dan manipulasi visual menjadi semakin tipis. Situasi tersebut juga memunculkan pertanyaan tentang etika kampanye digital. Terlebih, pemilu ini berlangsung setelah Israel melewati periode konflik panjang sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Karena itu, isu keamanan, perang, dan keluarga korban membawa beban emosional yang sangat besar bagi masyarakat menjelang hari pemungutan suara.
Video AI Menjadi Senjata Baru dalam Kampanye Politik
Teknologi AI memberi tim kampanye kemampuan membuat konten visual dengan cepat dan meyakinkan. Namun, kemudahan itu membawa risiko baru. Dalam kampanye pemilu Israel 2026, video buatan AI mulai digunakan untuk menyindir lawan dan menyoroti kebijakan yang dianggap gagal. Materi semacam ini mudah menyebar karena tampil dramatis dan memancing emosi pengguna media sosial. Selain itu, penonton mungkin membutuhkan waktu untuk mengetahui apakah sebuah adegan benar-benar terjadi atau hanya hasil rekayasa digital. Kondisi tersebut membuat transparansi menjadi sangat penting. Konten politik yang menggunakan AI idealnya memiliki penanda jelas agar publik memahami konteksnya. Tanpa informasi yang cukup, satire dapat disalahartikan sebagai rekaman asli. Persoalan menjadi semakin rumit ketika materi kampanye menyentuh perang, keamanan nasional, atau tragedi pribadi. Di tengah persaingan politik yang ketat, satu video viral dapat mengubah arah percakapan publik hanya dalam hitungan jam.
Baca Juga : Trump Ingin Bertemu Kim Jong Un Lagi, tetapi Pyongyang Ajukan Syarat Berat
Eisenkot Menyindir Netanyahu Melalui Rekayasa Digital
Gadi Eisenkot ikut menggunakan teknologi AI untuk menyampaikan kritik politik terhadap Netanyahu. Menurut laporan yang menjadi dasar pemberitaan ini, Eisenkot mengunggah video rekayasa AI di platform X pada 21 Oktober 2026. Unggahan tersebut muncul bertepatan dengan ulang tahun ke-77 Netanyahu. Video itu menampilkan sejumlah karakter buatan yang seolah memberikan ucapan kepada sang perdana menteri. Salah satunya menggambarkan anggota Hamas yang berbicara dari sebuah terowongan. Adegan tersebut menyindir tuduhan bahwa kebijakan Netanyahu selama bertahun-tahun ikut membantu Hamas mempertahankan kekuasaan di Gaza. Netanyahu telah membantah tuduhan semacam itu. Video tersebut juga menghadirkan karakter yang menyerupai Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Melalui pendekatan satire, kubu Eisenkot mencoba mengarahkan perhatian pada rekam jejak keamanan Netanyahu. Namun, penggunaan tokoh konflik dalam materi AI sekaligus menunjukkan betapa tajamnya persaingan menjelang pemilu.
Kubu Netanyahu Membalas dengan Konten AI
Netanyahu dan kubunya juga menggunakan konten berbasis AI untuk menyerang lawan politik. Salah satu materi yang menjadi sorotan muncul pada Juli 2026. Video tersebut menggambarkan Eisenkot menolak pelukan seorang pemuda yang memakai kaus bertuliskan “Persatuan Israel”. Dalam adegan berikutnya, sosok Eisenkot justru digambarkan memeluk Mansour Abbas, politikus Arab-Israel. Konten itu kemudian memicu kritik karena muncul tuduhan bahwa karakter pemuda tersebut dibuat menyerupai putra Eisenkot yang meninggal saat bertempur di Gaza pada 2023. Jika sebuah materi politik menyentuh kehilangan pribadi, dampaknya tentu berbeda dari satire kampanye biasa. Perdebatan tidak lagi hanya berbicara tentang teknologi. Publik juga mulai mempertanyakan batas moral dalam mencari dukungan suara. Dalam kampanye pemilu Israel 2026, penggunaan AI akhirnya memperlihatkan bagaimana teknologi dapat memperkuat pesan politik sekaligus memperbesar luka emosional yang masih dirasakan keluarga korban perang.
Baca Juga :Masa Kecil Anak Buronan FBI, Hidup dengan Identitas Palsu dan Bahasa Kode
Pemilu Pertama Setelah Konflik Membawa Beban Emosional
Pemilu 2026 memiliki arti khusus bagi masyarakat Israel karena menjadi pemilihan umum pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang setelahnya. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi banyak keluarga. Karena itu, setiap pesan tentang keamanan, sandera, perang, dan kepemimpinan membawa bobot politik yang besar. Netanyahu berusaha mempertahankan dukungan dengan menonjolkan pengalaman serta kebijakan keamanannya. Sementara itu, Eisenkot berusaha menawarkan pilihan lain kepada pemilih yang menginginkan perubahan. Persaingan itu berlangsung di tengah masyarakat yang masih menghadapi pertanyaan sulit tentang masa depan negara. Jajak pendapat yang dikutip dalam laporan sumber menunjukkan persaingan ketat antara blok pendukung kedua tokoh. Dalam suasana seperti ini, kampanye berbasis emosi dapat bekerja sangat kuat. Namun, penggunaan AI juga meningkatkan risiko distorsi. Pemilih perlu memisahkan kritik berbasis fakta dari konten rekayasa yang sengaja dirancang untuk membentuk persepsi.
Deepfake Politik Membuat Pemilih Menghadapi Tantangan Baru
Kemunculan video AI dalam kampanye membawa tantangan yang lebih luas daripada persaingan Netanyahu dan Eisenkot. Teknologi generatif kini mampu menciptakan wajah, suara, dan situasi yang tampak realistis. Karena itu, masyarakat semakin sulit menilai sebuah konten hanya berdasarkan tampilannya. Dalam politik, masalah tersebut menjadi serius karena informasi palsu dapat memengaruhi pandangan sebelum klarifikasi muncul. Meski demikian, tidak semua konten AI otomatis merupakan deepfake yang menipu. Beberapa materi memang dibuat sebagai satire dan sengaja tampil berlebihan. Masalah muncul ketika pembuat konten tidak memberi konteks yang jelas atau ketika pengguna lain menyebarkannya sebagai rekaman nyata. Oleh sebab itu, literasi digital menjadi semakin penting menjelang pemungutan suara. Pemilih sebaiknya memeriksa sumber, konteks, dan keterangan asli sebelum mempercayai video politik. Platform digital juga menghadapi tekanan untuk memberikan penanda yang lebih jelas terhadap materi kampanye hasil rekayasa kecerdasan buatan.
AI Mengubah Wajah Persaingan Politik Modern
Pertarungan Netanyahu dan Eisenkot menunjukkan perubahan besar dalam cara politisi berkomunikasi dengan masyarakat. Dahulu, kampanye bergantung pada televisi, poster, debat, dan pertemuan terbuka. Kini, satu video AI dapat menyebar ke jutaan layar dalam waktu singkat. Kecepatan tersebut menawarkan keuntungan bagi kandidat, tetapi juga menciptakan tanggung jawab besar. Kampanye pemilu Israel 2026 memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk satire, kritik, dan serangan politik yang sangat personal. Namun, teknologi tidak menghapus kebutuhan akan fakta dan etika. Justru ketika gambar palsu semakin mudah dibuat, kepercayaan publik menjadi semakin berharga. Bagi pemilih, tantangannya bukan sekadar menentukan kandidat pilihan. Mereka juga harus memahami mana peristiwa nyata, mana interpretasi politik, dan mana adegan buatan AI. Pada akhirnya, perkembangan ini bisa menjadi gambaran tentang masa depan kampanye politik di berbagai negara ketika kecerdasan buatan semakin mudah digunakan.