Jurnal Tempo – Hujan ekstrem yang mengguyur Sumatera dalam beberapa hari terakhir meninggalkan dampak besar bagi jaringan transportasi, terutama kereta api. Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub mencatat banyak jalur yang berhenti beroperasi akibat banjir dan longsor. Kondisi ini membuat perjalanan kereta tersendat, bahkan terhenti total di beberapa titik. Di tengah situasi darurat tersebut, Dirjen Perkeretaapian Allan Tandiono menyampaikan rasa duka sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memulihkan kondisi sesegera mungkin. Tim di lapangan bekerja dengan kewaspadaan tinggi karena intensitas hujan masih tinggi dan sejumlah area tergolong rawan. Dalam suasana penuh ketidakpastian ini, keselamatan petugas tetap menjadi prioritas utama sebelum proses rehabilitasi dapat dilanjutkan secara penuh.
Banyak Jalur Terputus dan Belum Bisa Dilalui
Hantaman banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyebabkan beberapa ruas jalur rel tertutup material dan lumpur tebal. Petak jalur Stasiun Muara Satu–Krueng Geukueh–Bungkaih–Krueng Mane menjadi salah satu yang terdampak paling berat. Selain itu, jalur Krueng Mane–Gerugok–Kutablang, Bandar Tinggi–Kuala Tanjung, Medan–Binjai, dan sejumlah rel di Kota Pariaman juga mengalami kerusakan. Allan menjelaskan bahwa beberapa titik longsor begitu parah hingga proses pembersihan harus dilakukan dengan perlahan. Selain itu, beberapa jalur di Pariaman bahkan sempat terendam air banjir. Tim lapangan terus melaporkan kondisi terbaru agar keputusan perbaikan dapat dilakukan secara tepat dan aman.
“Baca Juga : Mencegah Deindustrialisasi: Mengapa Kualitas SDM Menjadi Penentu Masa Depan Indonesia”
Upaya Rehabilitasi Dimulai dengan Risiko Cuaca Ekstrem
Walau cuaca belum stabil, proses rehabilitasi tetap berjalan dengan dukungan penuh dari Kemenhub, PT KAI, dan pemangku kepentingan lainnya. Tim gabungan telah mengirimkan alat berat serta material berupa rel bekas untuk penguatan konstruksi sementara. Mereka bergerak cepat untuk memastikan jalur yang mungkin pulih lebih dahulu dapat segera dilewati. Namun, setiap langkah diambil dengan mempertimbangkan risiko cuaca dan keamanan pekerja. Allan menegaskan bahwa tidak ada perbaikan yang dilakukan tanpa pemantauan kondisi sekitar. Koordinasi intensif antara pusat dan daerah menjadi kunci, mengingat karakter bencana di Sumatera seringkali berubah dalam waktu singkat.
Permohonan Maaf untuk Penumpang yang Perjalanannya Terganggu
Di tengah proses penanganan bencana, DJKA menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang perjalanan keretanya terganggu. Banyak aktivitas warga, termasuk distribusi barang dan mobilitas harian, ikut terdampak. Keterlambatan, pembatalan perjalanan, hingga pengalihan moda transportasi menjadi situasi yang tidak terhindarkan. Allan menegaskan komitmen bahwa jalur-jalur penting akan menjadi prioritas pemulihan agar layanan kereta api dapat kembali beroperasi secara bertahap. Ia berharap publik dapat memahami situasi, karena setiap keputusan diambil demi melindungi keselamatan penumpang dan petugas di lapangan.
“Baca Juga : Pertamina Siaga Nataru: Menjaga Energi Tetap Mengalir di Puncak Liburan”
Distribusi BBM Ikut Tersendat, Pertamina Lakukan Rerouting Besar-Besaran
Gangguan transportasi akibat banjir dan longsor tidak hanya menghambat kereta api, tetapi juga distribusi energi. Pertamina Patra Niaga melaporkan titik-titik distribusi BBM dan LPG di Aceh dan Sumatera Utara ikut terganggu. Sejumlah jalan diberlakukan sistem buka-tutup, sementara sebagian lainnya terputus total. Untuk memastikan pasokan tetap berjalan, Pertamina melakukan pengalihan rute dari berbagai terminal, seperti IT Lhokseumawe, IT Dumai, FT Siantar, FT Kisaran, dan FT Sibolga. Corporate Secretary Roberth MV Domatubun menjelaskan bahwa penambahan armada dilakukan agar distribusi energi tetap menjangkau wilayah terdampak. Situasi ini menambah beban logistik di tengah upaya penanganan bencana yang sudah kompleks.
Koordinasi Lintas Sektor untuk Memulihkan Mobilitas Warga
Pemulihan jalur transportasi di Sumatera kini menjadi kerja bersama berbagai instansi. DJKA, PT KAI, pemerintah daerah, TNI, dan lembaga terkait saling mengoordinasikan langkah darurat. Fokus utamanya adalah membuka jalur terisolasi dan memastikan pasokan kebutuhan dasar tetap tersedia. Di banyak lokasi, alat berat harus bekerja tanpa henti untuk membersihkan lumpur tebal yang menutup rel dan jalan raya. Masyarakat di sekitar jalur rel pun ikut membantu dengan tenaga seadanya. Di tengah kesedihan akibat bencana, kebersamaan dan solidaritas menjadi kekuatan yang menjaga harapan tetap menyala.