Jurnal Tempo – Bisnis berusia seabad di Jepang memasuki masa yang tidak mudah. Perusahaan yang selama beberapa generasi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini menghadapi tekanan yang datang bersamaan. Berdasarkan data Teikoku Databank yang dikutip dalam laporan tersebut, 112 bisnis berusia lebih dari 100 tahun mengalami kebangkrutan selama delapan bulan pertama 2026. Angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang pencatatan. Fenomena ini terasa ironis karena perusahaan-perusahaan tersebut sebelumnya dikenal mampu bertahan melewati perang, krisis ekonomi, hingga perubahan teknologi. Namun, ketahanan sejarah tidak otomatis menjamin masa depan. Kenaikan biaya, kekurangan tenaga kerja, penyusutan pasar domestik, serta persoalan suksesi mulai menggerus fondasi mereka. Ekonom Oxford Economics Shigeto Nagai menilai perusahaan berusia satu abad semakin kesulitan memperkirakan keuntungan jangka panjang. Karena itu, kisah mereka bukan sekadar statistik kebangkrutan, melainkan potret perubahan besar yang sedang berlangsung dalam ekonomi Jepang.
Kadoya Sesame Mills Menjadi Gambaran Perubahan Zaman
Salah satu contoh yang mencuri perhatian datang dari Kadoya Sesame Mills, produsen minyak wijen yang telah beroperasi sejak 1858. Perusahaan tersebut berencana keluar dari bursa melalui tender offer yang didukung firma ekuitas swasta Integral. Langkah itu datang setelah lebih dari dua dekade perusahaan tercatat di Jasdaq Securities Exchange sejak 2004. Di balik keputusan tersebut, kenaikan biaya bahan baku dan risiko geopolitik menjadi bagian dari tekanan yang harus dihadapi. Kasus Kadoya memperlihatkan bahwa usia panjang dan nama besar tidak membuat sebuah perusahaan kebal terhadap perubahan lingkungan bisnis. Selama bertahun-tahun, bisnis tradisional Jepang tumbuh melalui kedekatan dengan komunitas, pengelolaan keluarga, dan disiplin keuangan. Kini, pola tersebut harus berhadapan dengan kondisi yang jauh lebih kompleks. Ketika biaya berubah cepat dan ketidakpastian meningkat, mempertahankan cara lama tanpa penyesuaian dapat membuat ruang gerak perusahaan semakin sempit.
Baca Juga : Yield Surat Utang AS Naik, Obligasi RI Masih Menarik?
Biaya Naik dan Kekurangan Pekerja Menekan Perusahaan
Tekanan biaya menjadi salah satu masalah paling nyata bagi bisnis lama Jepang. Harumi Taguchi dari S&P Global Market Intelligence menilai kenaikan biaya dan kekurangan tenaga kerja menjadi tantangan utama dalam lingkungan bisnis setelah pandemi. Inflasi memang memberi perusahaan ruang lebih besar untuk menaikkan harga dibandingkan ketika Jepang berada dalam periode deflasi. Namun, banyak perusahaan tetap tidak mampu meneruskan seluruh kenaikan pengeluaran kepada konsumen. Situasi ini terutama menyulitkan bisnis kecil yang bergantung pada pasar domestik. Data dalam laporan menunjukkan kebangkrutan terkait kenaikan harga meningkat 23,8 persen menjadi 556 kasus pada semester pertama 2026. Pada saat yang sama, kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja naik 12,4 persen menjadi 227 kasus. Angka tersebut menunjukkan tekanan yang datang dari dua arah sekaligus. Perusahaan harus membayar lebih mahal untuk mempertahankan operasi, sementara mencari pekerja yang dibutuhkan juga menjadi semakin sulit.
Sube Shoten Menunjukkan Rapuhnya Bisnis Tradisional
Cerita Sube Shoten memperlihatkan bagaimana tekanan tersebut dapat menyentuh bisnis yang telah bertahan hampir satu setengah abad. Produsen tahu yang berdiri sejak 1877 itu menghentikan operasinya pada Mei 2026 dan bersiap mengajukan kebangkrutan. Margin keuntungan yang rendah serta lonjakan harga bahan baku disebut menjadi penyebab utama. Bagi perusahaan seperti Sube Shoten, menaikkan harga bukan keputusan sederhana. Produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari konsumen memiliki batas psikologis harga, sementara pelanggan juga menghadapi tekanan biaya hidup. Akibatnya, bisnis dapat terjepit antara menjaga pelanggan dan mempertahankan keuntungan. Masalah itu semakin berat karena pasar domestik Jepang ikut berubah. Angka kelahiran yang rendah dan populasi yang menua membuat basis konsumen menyusut secara perlahan. Persaingan untuk mendapatkan pelanggan pun menjadi semakin ketat. Dalam kondisi seperti ini, sejarah panjang dapat menjadi kekuatan merek, tetapi belum tentu cukup untuk menjaga arus pendapatan.
Baca Juga : Rupiah Dekati Rp18.000, Strategi Intervensi BI Berubah
Krisis Penerus Mengancam Warisan Bisnis Keluarga
Di luar persoalan biaya dan pasar, bisnis keluarga Jepang menghadapi pertanyaan yang jauh lebih personal: siapa yang akan meneruskan perusahaan? Kebangkrutan yang berkaitan dengan minimnya penerus meningkat 16,9 persen menjadi 312 kasus pada semester pertama 2026 dibandingkan periode sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa suksesi bukan lagi persoalan internal keluarga semata, melainkan tantangan ekonomi yang nyata. Banyak perusahaan berusia panjang dibangun melalui kepemilikan keluarga dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Model itu membantu menjaga identitas, kepercayaan pelanggan, serta hubungan dengan komunitas. Namun, perubahan aspirasi generasi muda dapat membuat pola tersebut sulit dipertahankan. Ketika tidak ada anggota keluarga yang siap mengambil alih, pemilik harus mencari pembeli, mitra, atau manajemen baru. Jika pilihan itu tidak tersedia, bisnis yang masih memiliki nama dan sejarah panjang sekalipun dapat menghadapi akhir yang tidak pernah dibayangkan pendirinya.
Tekanan Ekonomi Memaksa Pemilik Memikirkan Pilihan Baru
Tekanan yang dihadapi perusahaan berusia seabad tidak berasal dari satu masalah tunggal. Paul Aversano dari Alvarez & Marsal menilai kombinasi berbagai faktor mendorong pemilik dan dewan direksi untuk meninjau ulang pilihan mereka. Pelemahan yen, reformasi tata kelola korporasi, tekanan investor aktivis, inflasi, tarif, biaya tenaga kerja, suku bunga, dan persoalan suksesi menciptakan lingkungan yang berbeda dari masa lalu. Perusahaan yang selama puluhan tahun mengandalkan kestabilan kini harus membuat keputusan dalam situasi yang bergerak lebih cepat. Bagi sebagian pemilik, menerima investasi, melakukan restrukturisasi, atau menjual perusahaan mungkin menjadi cara mempertahankan bisnis dalam bentuk baru. Namun, keputusan seperti itu juga membawa sisi emosional. Sebuah perusahaan keluarga bukan hanya aset finansial. Di dalamnya terdapat nama keluarga, hubungan dengan pekerja, pelanggan lama, serta kebanggaan komunitas yang dibangun lintas generasi. Karena itu, perubahan kepemilikan dapat terasa seperti perpisahan dengan bagian sejarah.
Kemampuan Beradaptasi Menentukan Nasib Warisan Bisnis Jepang
Gelombang kebangkrutan ini memperlihatkan bahwa umur panjang tetap membutuhkan kemampuan beradaptasi. Bisnis Jepang berusia seabad pernah membangun kekuatan melalui kepemilikan keluarga, akar komunitas yang kuat, pengelolaan sesuai kemampuan, serta modal yang terkumpul selama bertahun-tahun. Menurut Nagai, karakter tersebut sebelumnya membantu mereka mencapai kemakmuran jangka panjang dan menjaga neraca keuangan yang sehat. Namun, kondisi 2026 menguji apakah kekuatan lama itu masih cukup menghadapi perubahan demografi dan biaya. Perusahaan yang mampu menyesuaikan harga, menarik tenaga kerja, merencanakan suksesi, serta memperbarui strategi mungkin memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki ruang untuk berubah menghadapi risiko semakin berat. Di balik angka kebangkrutan, ada toko, pabrik, pekerja, dan keluarga yang kehilangan bagian dari sejarahnya. Itulah yang membuat bergugurannya bisnis tua Jepang menjadi cerita ekonomi sekaligus cerita manusia tentang warisan yang berusaha bertahan.