Jurnal Tempo – Leica medali perunggu karate menjadi salah satu catatan membanggakan Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Leica Al Humaira Lubis, mahasiswi Universitas Sumatera Utara (USU), berhasil naik podium dari nomor kumite +68 kilogram putri. Karateka Indonesia itu memastikan perunggu setelah mengalahkan wakil Kirgizstan, Begimai Orozalieva. Pertandingan berlangsung di Toyohashi Gymnasium, Aichi, Jepang, pada Minggu, 20 September 2026. Leica tampil efektif dan menutup pertandingan dengan skor 6-1. Di balik keberhasilan tersebut, perjalanan Leica juga menarik karena ia menjalani dua tanggung jawab sekaligus. Selain berlatih sebagai atlet nasional, ia tetap menempuh pendidikan tinggi sebagai mahasiswi Ilmu Komputer.
Leica Amankan Perunggu Asian Games 2026
Pertandingan melawan Begimai Orozalieva menjadi momen penting dalam perjalanan Leica di Asian Games 2026. Tampil pada nomor kumite +68 kilogram putri, Leica mampu mengendalikan pertandingan dan mengumpulkan poin secara efektif. Pertarungan akhirnya berakhir dengan skor 6-1 untuk karateka Indonesia tersebut. Hasil itu memastikan Leica membawa pulang medali perunggu. Bagi seorang atlet, podium Asian Games memiliki arti besar karena persaingan mempertemukan karateka dari berbagai negara Asia. Terlebih lagi, Leica datang dengan pengalaman kompetitif yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, perunggu di Aichi-Nagoya menjadi tambahan penting dalam rekam jejak kariernya.
Perjalanan Leica Tidak Dibangun dalam Waktu Singkat
Keberhasilan di Jepang merupakan bagian dari proses panjang yang telah dilalui Leica. Sebelum Asian Games, ia sudah tampil dalam berbagai kompetisi nasional dan internasional. Pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024, misalnya, Leica meraih emas kumite -68 kilogram putri dan perunggu kumite beregu. Ia kemudian melanjutkan perkembangannya melalui sejumlah turnamen pada 2025. Pengalaman bertanding tersebut memberikan kesempatan untuk menghadapi karakter lawan yang berbeda. Selain kemampuan teknik, pertandingan tingkat tinggi juga menguji konsentrasi dan pengambilan keputusan dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, pengalaman kompetitif menjadi modal penting ketika Leica memasuki arena Asian Games.
Emas SEA Games Menjadi Salah Satu Tonggak Penting
Salah satu pencapaian penting Leica terjadi pada SEA Games 2025 di Thailand. Dalam debutnya pada ajang olahraga Asia Tenggara tersebut, ia berhasil meraih medali emas nomor kumite +68 kilogram putri. Pada pertandingan final, Leica menghadapi karateka tuan rumah Kewalin Songklin. Keberhasilan itu menjadi penanda perkembangan kariernya di level internasional. Kementerian Pemuda dan Olahraga juga mencatat bahwa debut SEA Games tersebut menjadi ujian besar bagi Leica. Namun, ia mampu mengatasi tekanan dan pulang membawa emas. Pengalaman menghadapi atmosfer kompetisi internasional seperti itu kemudian menjadi bekal penting untuk turnamen yang lebih besar.
Gelar Asia 2026 Memperkuat Rekam Jejak Leica
Beberapa bulan sebelum Asian Games, Leica juga mencatat pencapaian besar di Asian Karate Federation Championships 2026. Ia berhasil meraih medali emas pada nomor kumite +68 kilogram putri. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa performanya menuju Asian Games dibangun melalui rangkaian kompetisi yang konsisten. Sebelumnya, Leica juga menjadi juara nasional pada Kejuaraan Karate Piala Ketua Umum PB FORKI IV 2026 di Bandung. Dalam final Kejurnas itu, ia menang 6-3. Jika melihat rangkaian hasil tersebut, perunggu Asian Games bukanlah pencapaian yang muncul secara tiba-tiba. Ada proses latihan, pengalaman pertandingan, dan peningkatan performa yang berlangsung secara bertahap.
Baca Juga: KMK Angkat Tenun Baduy dan Nostalgia Masa Kecil di Fashion Nation
Leica Tetap Menjalani Kehidupan sebagai Mahasiswi USU
Di luar arena karate, Leica tercatat sebagai mahasiswi Program Studi S1 Ilmu Komputer di Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi USU. Menjalani kuliah sekaligus karier sebagai atlet tentu membutuhkan pengelolaan waktu yang disiplin. Jadwal latihan, kompetisi, perjalanan, dan pemulihan harus berjalan berdampingan dengan kegiatan akademik. Menurut Leica, prestasi olahraga justru memberikan manfaat terhadap perjalanan pendidikannya. Salah satunya terlihat ketika prestasi yang ia miliki membantu membuka jalur masuk ke perguruan tinggi. Dalam konteks ini, olahraga dan pendidikan tidak harus berjalan pada arah yang berlawanan. Keduanya dapat saling mendukung apabila dikelola secara konsisten.
Kebiasaan sebagai Atlet Membantu Kehidupan Akademik
Pengalaman menjadi atlet turut membentuk kebiasaan yang dapat diterapkan Leica dalam perkuliahan. Disiplin menjadi salah satu kemampuan yang paling terasa. Selain itu, latihan rutin mengajarkan konsistensi, pengelolaan waktu, dan kemampuan menghadapi tekanan. Keterampilan seperti itu tidak hanya dibutuhkan di arena pertandingan. Mahasiswa juga menghadapi tenggat tugas, ujian, proyek, dan berbagai kegiatan kampus. Karena itu, pengalaman olahraga dapat membentuk kemampuan yang relevan dengan kehidupan akademik. Menurut saya, perjalanan Leica memperlihatkan bahwa prestasi nonakademik tidak selalu menjadi penghambat pendidikan. Dengan dukungan yang tepat, pengalaman tersebut justru dapat membentuk karakter yang berguna dalam proses belajar.
USU Memberikan Apresiasi atas Prestasi Leica
Rektor USU Prof. Muryanto Amin menyampaikan apresiasi terhadap pencapaian Leica di Asian Games 2026. Menurut pihak universitas, keberhasilan tersebut membawa kebanggaan bagi Leica, keluarga, sivitas akademika USU, dan Indonesia. Kampus juga melihat pencapaian Leica sebagai contoh bahwa mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang di berbagai bidang. Pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di ruang kelas. Potensi olahraga, seni, penelitian, dan bidang lain juga dapat menjadi bagian dari perkembangan mahasiswa. Oleh sebab itu, keberhasilan atlet mahasiswa dapat memberikan perspektif berbeda mengenai bagaimana kampus mendukung prestasi akademik sekaligus nonakademik.
Konsistensi Menjadi Bagian Penting dari Prestasi Leica
Melihat perjalanan Leica sejak 2024, satu hal yang terlihat adalah konsistensi mengikuti kompetisi. Ia pernah meraih perak Kejurnas 2024, emas dan perunggu pada PON 2024, kemudian melanjutkan persaingan ke sejumlah kejuaraan internasional. Pada 2025, Leica kembali mengumpulkan pengalaman melalui Silent Knight Open Karate Championship dan South East Asian Karate Federation Championship. Setelah itu, emas SEA Games Thailand menjadi salah satu pencapaian terbesarnya. Memasuki 2026, performanya berlanjut dengan emas Kejurnas dan Asian Karate Federation Championships. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan seorang atlet biasanya dibentuk oleh banyak pertandingan, bukan hanya satu turnamen besar.
Atlet Mahasiswa Menghadapi Tantangan yang Berbeda
Menjadi atlet nasional sekaligus mahasiswa membawa tantangan tersendiri. Atlet membutuhkan waktu panjang untuk latihan dan pemulihan. Sementara itu, kegiatan akademik tetap memiliki jadwal serta target yang harus dipenuhi. Dalam situasi tersebut, kemampuan menentukan prioritas menjadi sangat penting. Dukungan kampus juga dapat membantu atlet mempertahankan perkembangan akademiknya ketika harus mengikuti pemusatan latihan atau kompetisi di luar daerah dan luar negeri. Pengalaman Leica memberikan gambaran bahwa kedua jalur tersebut dapat berjalan berdampingan. Namun, keberhasilannya tetap membutuhkan disiplin pribadi, komunikasi, dan lingkungan yang memahami tuntutan seorang atlet berprestasi.
Perunggu Asian Games Menambah Catatan Prestasi Leica
Leica medali perunggu karate di Asian Games 2026 menambah panjang perjalanan atlet muda Indonesia tersebut. Setelah meraih prestasi di PON, SEA Games, Kejurnas, dan Kejuaraan Asia, Leica kini memiliki medali Asian Games dalam rekam jejaknya. Pada saat yang sama, ia masih menjalani pendidikan sebagai mahasiswi Ilmu Komputer USU. Kombinasi tersebut membuat kisahnya tidak hanya berbicara mengenai kemenangan di arena karate. Perjalanannya juga menunjukkan bagaimana pendidikan dan olahraga dapat berkembang secara bersamaan. Bagi mahasiswa lain, kisah Leica dapat menjadi gambaran bahwa pencapaian di luar akademik tetap membutuhkan proses panjang, disiplin, serta kemampuan menjaga komitmen dari waktu ke waktu.