Jurnal Tempo – Iran nyaris memiliki kemampuan untuk memproduksi belasan senjata nuklir setelah melalui tekanan internasional dan serangan militer di era tiga presiden AS: Barack Obama, Donald Trump, dan Joe Biden. Laporan Wall Street Journal menyebutkan Teheran masih menyimpan sekitar 10 ton uranium yang diperkaya, setara hampir 11 bom nuklir. Meskipun pemerintah Iran menegaskan tidak mengembangkan senjata, badan nuklir PBB menilai kemampuan teknologinya memungkinkan langkah menuju senjata nuklir. Peningkatan kapasitas uranium, fasilitas sentrifugal canggih, dan riset intensif menjadi sorotan global yang memicu diskusi mengenai keamanan regional di Timur Tengah.
Era JCPOA Obama
Pada 2015, Presiden Barack Obama menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA dengan Iran dan negara besar lain. Kesepakatan membatasi uranium Iran sekitar 660 pon dengan pengayaan maksimal 3,67 persen selama 15 tahun. Fasilitas sentrifugal juga dikontrol ketat, dan pengembangan senjata nuklir dilarang. Namun pembatasan ini hanya menunda, bukan menghilangkan, ancaman nuklir, karena sebagian ketentuan akan berakhir pada 2030. Riset uranium tetap diperbolehkan setelah 8,5 tahun, memungkinkan Iran meningkatkan kapasitas produksi jika teknologi dan mesin lebih canggih digunakan.
Baca Juga : 30.000 UFO Bawah Laut Muncul di AS, Bisa Gerak Sangat Cepat
Trump Keluar dari JCPOA
Pada 2018, Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari JCPOA dan memberlakukan sanksi maksimal terhadap Iran. Iran kemudian melanggar batas stok uranium, meningkatkan pengayaan menjadi 4,5 persen pada 2019. Sentrifugal canggih di Natanz dan fasilitas bawah tanah Fordo kembali digunakan, menandai lonjakan kapasitas nuklir. Richard Nephew, negosiator JCPOA, menilai langkah Trump menyebabkan perkembangan program nuklir Iran meningkat pesat, karena rencana negosiasi ulang mengendurkan kontrol ketat kesepakatan sebelumnya.
Era Biden dan Diplomasi
Di era Presiden Joe Biden, upaya menghidupkan kembali JCPOA kembali diupayakan. Meski negosiasi dilakukan, uranium Iran tetap berada di level tinggi dan kemampuan produksi nuklir berkembang. Iran memanfaatkan jeda diplomasi untuk memperkuat kapasitas teknologinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan diplomatik dan intervensi militer dari berbagai pemerintahan AS berbeda-beda dampaknya, dan strategi berlapis tidak selalu menghentikan kemajuan nuklir Teheran.
Baca Juga : Militer Iran Siap Hadapi AS Jika Lanjut Perang, Punya Cara dan Alat Baru
Risiko Nuklir dan Regional
Kemampuan Iran mendekati kapasitas 11 bom nuklir meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Negara-negara tetangga, termasuk Israel dan Arab Saudi, mengawasi pergerakan Teheran dengan cermat. Kemungkinan proliferasi senjata nuklir menimbulkan risiko strategis, memperbesar tekanan diplomatik, dan menuntut pengawasan internasional lebih ketat. Aktivitas militer di sekitar Teluk Persia dan langkah-langkah keamanan global menjadi semakin penting untuk mencegah eskalasi konflik.
Uranium dan Teknologi Sentrifugal
Material uranium yang tersisa di Iran menjadi fokus utama. Penggunaan sentrifugal canggih meningkatkan efisiensi pengayaan, memungkinkan produksi lebih cepat jika pemerintah Iran memutuskan untuk melanjutkan program nuklir. Meskipun masih di bawah tingkat senjata, jumlah uranium yang ada cukup untuk langkah cepat menuju senjata nuklir. Para analis internasional terus memantau fasilitas Natanz dan Fordo, memastikan perkembangan teknologi nuklir Teheran tetap dalam pengawasan global.
Pelajaran Diplomasi Nuklir
Kisah Iran di era tiga presiden AS menunjukkan kompleksitas diplomasi nuklir. Perubahan kebijakan, tekanan ekonomi, dan sanksi militer dapat mempercepat atau menunda kemampuan nuklir negara. Strategi diplomasi multilateral menjadi kunci untuk mencegah proliferasi senjata. Meski JCPOA menunda ancaman, perkembangan teknologi dan pengayaan uranium Iran menunjukkan perlunya pemantauan berkelanjutan dan koordinasi internasional yang lebih efektif untuk menjaga keamanan global.