Jurnal Tempo – Berinteraksi dengan seseorang yang memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder atau NPD sering kali terasa melelahkan secara emosional. Pada awal hubungan, mereka biasanya tampil menarik, percaya diri, dan penuh perhatian. Namun, seiring waktu, banyak orang mulai merasa terkuras karena hubungan berjalan tidak seimbang. Orang dengan sifat narsistik cenderung menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian dalam setiap situasi. Selain itu, mereka sulit memahami perasaan orang lain secara utuh. Akibatnya, pasangan, keluarga, atau teman dekat sering merasa tidak dihargai. Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini bisa memicu stres berkepanjangan. Bahkan, banyak orang perlahan kehilangan rasa percaya diri karena terus berada dalam lingkungan yang penuh kritik dan manipulasi emosional dari sosok narsistik tersebut.
Selalu Ingin Menjadi Pusat Perhatian di Mana Pun
Salah satu ciri paling terlihat dari orang dengan NPD adalah kebutuhan besar untuk selalu menjadi pusat perhatian. Mereka ingin dipuji, dikagumi, dan dianggap paling penting dalam lingkungan sosialnya. Karena itu, mereka sering berbicara tentang pencapaian pribadi secara berlebihan. Bahkan, dalam percakapan sederhana, fokus pembicaraan biasanya akan kembali kepada diri mereka sendiri. Jika perhatian mulai beralih kepada orang lain, mereka dapat merasa tersaingi atau tidak nyaman. Selain itu, orang dengan sifat narsistik kerap meremehkan pencapaian orang lain demi menjaga citra superiornya. Sikap seperti ini perlahan membuat hubungan sosial terasa melelahkan. Banyak orang akhirnya merasa tidak punya ruang untuk didengar karena setiap cerita selalu dikendalikan oleh kebutuhan narsistik seseorang yang ingin terus dipuji dan diperhatikan.
Baca Juga : WFH Jumat untuk ASN, Fleksibilitas Baru yang Ternyata Bisa Menambah Beban di Rumah
Sulit Memiliki Empati terhadap Perasaan Orang Lain
Kurangnya empati menjadi alasan utama mengapa hubungan dengan orang NPD sering menguras emosi. Mereka cenderung kesulitan memahami rasa sakit, kesedihan, atau kebutuhan emosional orang lain. Bahkan, ketika seseorang sedang menghadapi masalah besar, respons mereka sering terasa dingin atau tidak tulus. Dalam beberapa situasi, mereka justru membalikkan keadaan agar perhatian kembali tertuju kepada dirinya sendiri. Akibatnya, pasangan atau orang terdekat merasa sendirian meski berada dalam hubungan yang dekat. Selain itu, sikap tidak empati ini membuat konflik sulit diselesaikan secara sehat. Orang narsistik jarang mau mengakui kesalahan karena merasa dirinya selalu benar. Kondisi tersebut perlahan menciptakan hubungan yang penuh tekanan emosional, terutama bagi orang yang terus berusaha memahami dan mempertahankan hubungan secara sepihak.
Sangat Haus Pujian dan Pengakuan
Di balik sikap percaya diri yang terlihat kuat, banyak orang dengan NPD sebenarnya memiliki harga diri yang rapuh. Karena itu, mereka sangat bergantung pada pujian dan validasi dari lingkungan sekitar. Mereka ingin terus dianggap hebat, sukses, atau istimewa setiap saat. Jika tidak mendapatkan pengakuan sesuai harapan, suasana hati mereka bisa berubah drastis. Selain mudah marah, mereka juga dapat bersikap dingin atau manipulatif kepada orang terdekat. Dalam hubungan pribadi, kondisi ini sering membuat pasangan merasa harus selalu berhati-hati agar tidak memicu konflik. Lambat laun, hubungan menjadi terasa melelahkan karena satu pihak terus berusaha menjaga ego pasangannya. Sementara itu, kebutuhan emosional dirinya sendiri justru sering diabaikan demi mempertahankan ketenangan dalam hubungan tersebut.
Baca Juga :Tragedi Dokter Magang Meninggal Dunia, Seruan Reformasi Sistem Internship Menggema
Sering Memanipulasi dan Membuat Orang Merasa Bersalah
Orang dengan kecenderungan narsistik sering menggunakan manipulasi emosional untuk mempertahankan kontrol dalam hubungan. Salah satu cara yang umum terjadi adalah membuat orang lain merasa bersalah atas sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahan mereka. Selain itu, mereka juga pandai memutarbalikkan fakta agar terlihat sebagai korban. Dalam kondisi tertentu, mereka dapat bersikap sangat manis demi mendapatkan simpati. Namun setelah situasi berubah, sikap tersebut bisa berubah menjadi kasar atau merendahkan. Pola seperti ini membuat banyak orang bingung secara emosional. Mereka merasa disayangi, tetapi di saat bersamaan juga terluka. Karena manipulasi berlangsung perlahan, korban sering tidak sadar sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat. Akibatnya, kesehatan mental dapat terganggu karena terus hidup dalam tekanan emosional yang tidak stabil.
Tidak Suka Dikritik dan Mudah Tersinggung
Meski terlihat percaya diri, orang dengan NPD biasanya sangat sensitif terhadap kritik. Bahkan kritik kecil sekalipun bisa dianggap sebagai serangan besar terhadap harga diri mereka. Karena itu, mereka cenderung bereaksi secara emosional ketika menerima masukan dari orang lain. Ada yang langsung marah, menyalahkan balik, atau memilih menjauh secara tiba-tiba. Selain itu, mereka juga sulit menerima pendapat yang berbeda karena merasa dirinya paling benar. Dalam hubungan sehari-hari, kondisi ini membuat komunikasi menjadi tidak sehat. Orang terdekat akhirnya memilih diam demi menghindari konflik yang melelahkan. Namun, kebiasaan memendam perasaan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. Hubungan yang seharusnya memberikan rasa aman perlahan berubah menjadi ruang penuh tekanan emosional yang membuat seseorang kehilangan kenyamanan.
Mengenali NPD Penting untuk Menjaga Kesehatan Mental
Memahami ciri-ciri orang dengan NPD bukan berarti memberi label sembarangan kepada seseorang. Namun, mengenali pola perilaku narsistik penting agar seseorang bisa menjaga kesehatan mental dan membangun batas yang sehat dalam hubungan. Tidak semua orang percaya diri memiliki gangguan narsistik, tetapi perilaku yang terus merugikan emosional orang lain patut diwaspadai. Selain itu, hubungan yang sehat seharusnya dibangun dengan rasa saling menghargai, empati, dan komunikasi yang seimbang. Jika seseorang mulai merasa terus terkuras secara emosional dalam hubungan tertentu, penting untuk mengevaluasi situasi tersebut secara jujur. Dukungan dari keluarga, teman, atau profesional juga dapat membantu seseorang memahami kondisi yang sedang dihadapi. Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga hubungan sosial di kehidupan sehari-hari.