Jurnal Tempo – Proses pemulihan wilayah yang terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diperkirakan akan memakan waktu dua hingga tiga tahun. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyebutkan bahwa waktu pemulihan yang paling cepat adalah dua tahun, tetapi Kementerian PU telah menyiapkan proposal rencana pemulihan hingga tiga tahun. Pemulihan ini melibatkan rekonstruksi berbagai infrastruktur yang rusak, seperti jalan, jembatan, dan penyediaan air bersih untuk masyarakat terdampak.
Infrastruktur yang Perlu Diperbaiki
Pemulihan pasca bencana ini sangat bergantung pada proses pembangunan kembali infrastruktur. Salah satu fokus utama adalah perbaikan jalan-jalan yang rusak, jembatan yang hancur, serta pemulihan sistem pasokan air. Proses tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan banyak tahapan, termasuk pembangunan sabo dam dan perbaikan ruas jalan yang terdampak longsor. Misalnya, Jalan Tol Lembah Anai yang diperkirakan akan selesai dalam satu hingga dua tahun.
“Baca Juga : Operasi Kemanusiaan di Sumatera: AHY Kerahkan Alat Berat untuk Evakuasi dan Bantuan Darurat“
Percepatan Penyediaan Air Bersih
Kementerian Pekerjaan Umum juga telah memulai pembangunan sumur bor untuk mendukung penyediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak. Sebanyak 66 titik sumur bor air baku dibangun di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, 8 lokasi telah selesai dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Sumur bor ini memiliki kedalaman 100 meter dengan kapasitas lebih dari 2 liter per detik dan dilengkapi dengan pompa submersible serta reservoir untuk mendukung distribusi air bersih.
Pemulihan Jembatan Kembar Margayasa
Salah satu infrastruktur vital yang mendapat perhatian khusus adalah Jembatan Kembar Margayasa di Sumatera Barat. Jembatan ini merupakan jalur penting yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi. Setelah banjir bandang, tim Kementerian PU langsung melakukan pengecekan struktur jembatan. Meskipun tidak ada penurunan kondisi struktur, proteksi terhadap oprit dan pilar jembatan yang tergerus arus banjir sangat penting. Sementara itu, jembatan dioperasikan secara terbatas untuk memastikan keselamatan pengguna jalan.
“Baca Juga : Dari Padel hingga Kardio: Tren Olahraga 2025 yang Menjadi Gaya Hidup“
Kolaborasi dengan Pihak Terkait
Dalam upaya mempercepat pemulihan, Kementerian PU bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, dan pihak swasta. Pemeriksaan struktural jembatan melibatkan tim ahli dari PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Koordinasi yang baik antara berbagai pihak menjadi kunci utama dalam mempercepat proses pemulihan pasca bencana ini.
Fokus pada Keberlanjutan Infrastruktur
Selain perbaikan fisik, fokus lainnya adalah memastikan keberlanjutan infrastruktur yang dibangun. Setiap proyek pemulihan harus mempertimbangkan potensi bencana di masa depan dan upaya mitigasi yang diperlukan. Salah satu contoh yang diterapkan adalah pemasangan geobag di sekitar jembatan Kembar Margayasa untuk menahan erosi dan mencegah gerusan lebih lanjut. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas tanah dan jembatan dalam jangka panjang.
Dukungan Masyarakat dan Pemerintah
Proses pemulihan wilayah Sumatera pasca bencana tidak hanya melibatkan pemerintah pusat, tetapi juga dukungan dari masyarakat. Keberhasilan pemulihan ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan memelihara infrastruktur yang telah dibangun. Pemerintah terus berupaya memberikan informasi yang jelas dan transparan kepada masyarakat mengenai perkembangan pemulihan wilayah mereka.