Jurnal Tempo – Chuseok merupakan salah satu perayaan terbesar di Korea Selatan yang sering disebut sebagai Thanksgiving versi Korea. Momen ini menjadi waktu bagi keluarga untuk berkumpul, mengenang leluhur, serta menikmati berbagai hidangan tradisional bersama. Namun, di balik suasana hangat tersebut, masyarakat Korea Selatan juga harus mempersiapkan biaya yang tidak sedikit. Pada 2026, pengeluaran rumah tangga selama libur Chuseok kembali menjadi perhatian karena mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, hadiah, hingga perjalanan. Perayaan yang berlangsung selama empat hari ini membuat banyak keluarga mulai menghitung anggaran sejak jauh hari. Selain menjadi tradisi budaya yang kuat, Chuseok juga memberikan gambaran mengenai pola konsumsi masyarakat Korea Selatan. Setiap tahun, kebutuhan perayaan ini mencerminkan bagaimana tradisi dan kondisi ekonomi berjalan berdampingan.
Hidangan Charye Menjadi Pengeluaran Terbesar Saat Chuseok
Salah satu bagian penting dalam perayaan Chuseok adalah persiapan meja charye, yaitu hidangan khusus untuk ritual penghormatan kepada leluhur. Makanan yang disajikan biasanya terdiri dari berbagai masakan tradisional, buah musiman, makanan laut, hingga produk olahan khas Korea. Berdasarkan survei Dewan Nasional Organisasi Konsumen Korea, biaya menyiapkan hidangan charye untuk keluarga beranggotakan empat orang mencapai rata-rata 313.089 won atau sekitar Rp4,13 juta. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya karena beberapa harga bahan pangan mulai lebih stabil. Penurunan harga buah, makanan laut, dan produk olahan membantu mengurangi beban keluarga. Namun, kenaikan harga produk peternakan akibat gangguan pasokan tetap menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat yang ingin mempertahankan tradisi perayaan.
Baca Juga : Kementerian PU Nonaktifkan ASN yang Terjerat Kasus Tanaman Ganja di Bandung
Pemerintah Korea Berikan Dukungan untuk Tekan Biaya Pangan
Menjelang perayaan Chuseok, pemerintah Korea Selatan mengambil langkah untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan kebutuhan konsumsi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan subsidi dan diskon untuk produk pertanian, peternakan, serta perikanan. Program tersebut memiliki nilai mencapai 193 miliar won atau sekitar Rp2,55 triliun. Kebijakan ini bertujuan menjaga harga bahan makanan tetap terjangkau selama periode permintaan tinggi. Selain itu, pemerintah berharap masyarakat tetap dapat menjalankan tradisi Chuseok tanpa tekanan biaya yang terlalu besar. Dukungan tersebut juga menjadi bagian dari strategi menjaga kestabilan harga pangan nasional. Dengan adanya bantuan ini, keluarga di Korea Selatan dapat lebih mudah menyiapkan berbagai hidangan khas yang menjadi simbol kebersamaan saat perayaan berlangsung.
Tradisi Memberikan Uang Tunai Tetap Dipertahankan Keluarga Korea
Selain makanan, pemberian uang tunai menjadi salah satu tradisi yang masih kuat selama Chuseok. Banyak anggota keluarga memberikan uang kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih. Sementara itu, orang tua juga sering memberikan uang kepada anak atau cucu sebagai simbol perhatian. Berdasarkan analisis Kakao Pay terhadap transaksi pengiriman uang selama periode Chuseok, jumlah rata-rata uang yang dikirim kepada orang tua mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun sebelumnya, rata-rata pemberian mencapai 213.000 won atau sekitar Rp2,81 juta. Sementara pengiriman uang dari orang tua kepada anak mencapai sekitar 114.000 won atau Rp1,50 juta. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Chuseok bukan hanya tentang makanan, tetapi juga menjadi momen berbagi dan mempererat hubungan keluarga.
Baca Juga : Amran Soroti Dugaan Permainan di Balik Kelangkaan Beras Premium
Perjalanan Pulang Kampung Menambah Pengeluaran Saat Liburan
Selain biaya makanan dan hadiah, perjalanan menjadi komponen pengeluaran besar selama Chuseok. Jutaan warga Korea Selatan biasanya melakukan perjalanan untuk kembali ke kampung halaman dan bertemu keluarga besar. Aktivitas tersebut membuat transportasi menjadi perhatian utama selama masa liburan panjang. Namun, pada 2026 pemerintah memberikan beberapa kebijakan untuk membantu mengurangi beban perjalanan masyarakat. Salah satunya melalui pembebasan biaya tol jalan bebas hambatan selama periode tertentu. Kebijakan tersebut berlaku secara nasional, termasuk beberapa jalan yang dikelola pihak swasta. Selain itu, pemerintah juga berupaya menekan biaya bahan bakar dengan memberikan potongan harga di sejumlah tempat istirahat jalan bebas hambatan. Langkah tersebut diharapkan membuat masyarakat lebih nyaman melakukan perjalanan tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan terlalu besar.
Harga Bahan Bakar Turun untuk Mendukung Perjalanan Chuseok
Untuk membantu masyarakat selama musim liburan, pemerintah Korea Selatan memberikan diskon harga bahan bakar di ratusan lokasi layanan jalan bebas hambatan. Sebanyak 226 tempat istirahat yang dikelola Korea Expressway Corp. mendapatkan program pemangkasan harga bahan bakar. Harga bensin dan solar mengalami penurunan sekitar 100 won per liter sehingga masyarakat dapat menghemat biaya perjalanan. Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap mobilitas warga selama Chuseok. Selain bahan bakar, pembebasan biaya tol juga memberikan dampak positif karena jutaan kendaraan biasanya memenuhi jalan raya saat periode mudik. Dengan berbagai kebijakan tersebut, pemerintah berusaha menciptakan suasana perayaan yang lebih nyaman bagi masyarakat. Chuseok tetap menjadi tradisi penting, tetapi pengelolaan biaya menjadi bagian yang semakin diperhatikan setiap tahun.
Chuseok Menggambarkan Perpaduan Tradisi dan Kehidupan Modern Korea
Perayaan Chuseok menunjukkan bagaimana masyarakat Korea Selatan menjaga budaya lama sambil menghadapi perubahan ekonomi modern. Tradisi berkumpul bersama keluarga, menyiapkan makanan khas, memberikan hadiah, dan melakukan perjalanan pulang kampung masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Namun, biaya yang muncul selama perayaan membuat keluarga semakin memperhatikan perencanaan keuangan. Tahun 2026 menjadi contoh bagaimana masyarakat tetap mempertahankan nilai budaya sambil menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi. Melalui berbagai dukungan pemerintah dan perubahan pola konsumsi, keluarga Korea Selatan berusaha menikmati Chuseok dengan lebih bijak. Pada akhirnya, perayaan ini bukan hanya tentang jumlah pengeluaran, tetapi juga tentang menjaga hubungan keluarga dan menghargai warisan budaya yang telah berlangsung selama generasi.