Jurnal Tempo – 1,5 Juta Ojol Bakal Terima BHR menjadi kabar yang paling dinantikan para mitra pengemudi menjelang Lebaran 2026. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memastikan bahwa Bonus Hari Raya (BHR) tetap diberikan tahun ini, dengan jumlah mitra aktif yang diperkirakan mencapai 1,2 hingga 1,5 juta orang. Kepastian ini muncul setelah pemerintah bertemu dengan para aplikator untuk menyamakan persepsi. Bagi para pengemudi yang menggantungkan penghasilan harian dari aplikasi, kepastian tersebut membawa rasa lega. Lebaran bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga momen berkumpul bersama keluarga. Oleh karena itu, tambahan penghasilan dalam bentuk BHR memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar angka nominal.
Skema BHR Tetap Proporsional Sesuai Keaktifan
1,5 Juta Ojol Bakal Terima BHR dengan mekanisme yang tetap memperhatikan tingkat keaktifan mitra. Pemerintah menegaskan bahwa model bisnis ojek online berbeda dengan pekerja formal, sehingga pendekatan pemberian bonus pun menyesuaikan. Mitra full time tentu memiliki perhitungan berbeda dengan yang part time. Skema proporsional ini dianggap adil karena mempertimbangkan kontribusi masing-masing pengemudi terhadap platform. Tahun lalu, BHR diberikan sebesar 20 persen dari rata-rata pendapatan bersih bulanan selama 12 bulan terakhir bagi mitra produktif. Dengan pola serupa, banyak pengemudi berharap nominal tahun ini lebih baik, seiring komitmen aplikator untuk meningkatkan jumlah bonus.
“Baca Juga: Menkeu Purbaya Kantongi Identitas Pejabat Kemenke“
Sinyal Kenaikan Nominal dari Aplikator
1,5 Juta Ojol Bakal Terima BHR dengan potensi kenaikan nominal dibanding tahun sebelumnya. Menteri Ketenagakerjaan menyampaikan bahwa sejumlah aplikator telah berkomitmen memberikan nilai lebih tinggi dari 2025. Meski angka pastinya belum diumumkan, pemerintah mengapresiasi itikad baik tersebut. Selain itu, cakupan penerima manfaat juga disebut akan lebih luas. Bagi para mitra, kenaikan ini sangat berarti karena biaya hidup dan kebutuhan Lebaran terus meningkat. Pemerintah ingin memastikan bahwa BHR tahun ini lebih baik dari sebelumnya, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem transportasi berbasis aplikasi yang fleksibel namun tetap berkeadilan.
Konsultasi dengan Presiden Jadi Tahap Penentu
1,5 Juta Ojol Bakal Terima BHR masih menunggu tahapan konsultasi akhir dengan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Ketenagakerjaan bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dijadwalkan melaporkan hasil pertemuan dengan aplikator pada awal pekan depan. Proses ini menunjukkan bahwa kebijakan BHR bukan keputusan sepihak, melainkan hasil koordinasi lintas kementerian. Pemerintah ingin memastikan regulasi berjalan seimbang antara kepentingan pekerja dan keberlangsungan usaha. Setelah konsultasi rampung, pengumuman resmi akan dilakukan bersamaan dengan surat edaran terkait THR pekerja formal, sehingga publik memperoleh kepastian secara transparan dan serentak.
“Baca Juga : Pemerintah Siapkan Perpres Penghapusan Tunggakan“
BHR dan THR Diumumkan Bersamaan
1,5 Juta Ojol Bakal Terima BHR kemungkinan diumumkan bersamaan dengan Tunjangan Hari Raya (THR) pekerja formal. Pemerintah menilai momentum ini tepat agar kebijakan terasa inklusif. Surat Edaran resmi masih dalam tahap koordinasi dengan Kementerian Sekretariat Negara. Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa mitra pengemudi memiliki peran penting dalam perekonomian digital Indonesia. Dengan pengumuman yang terintegrasi, pemerintah berharap tidak ada kesenjangan informasi di tengah masyarakat. Para pengemudi pun dapat mempersiapkan kebutuhan Lebaran dengan lebih tenang, karena kepastian waktu pencairan biasanya dilakukan paling lambat tujuh hari sebelum Hari Raya Idulfitri.
Harapan Ojol dan Makna Lebaran
1,5 Juta Ojol Bakal Terima BHR bukan hanya soal kebijakan ekonomi, tetapi juga tentang rasa dihargai. Bagi banyak pengemudi, bonus ini menjadi simbol pengakuan atas kerja keras mereka sepanjang tahun. Setiap perjalanan yang mereka tempuh, setiap pesanan yang mereka antar, menjadi bagian dari roda ekonomi digital yang terus bergerak. Ketika pemerintah memastikan BHR tetap ada dan bahkan meningkat, rasa optimisme pun tumbuh. Lebaran menjadi momen untuk pulang dengan senyum, membawa kabar baik kepada keluarga. Oleh karena itu, kebijakan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bentuk perhatian nyata terhadap jutaan pekerja sektor informal.