Jurnal Tempo – Pentagon mendorong permintaan anggaran pertahanan Amerika Serikat hampir US$1,5 triliun atau sekitar Rp26 kuadriliun untuk memperkuat kemampuan militernya. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menilai investasi besar tersebut semakin penting ketika modernisasi militer China berkembang cepat. Dalam forum tahunan Association of the United States Army, ia menggambarkan situasi sekarang sebagai fase persaingan yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Washington menghadapi pesaing dengan kekuatan militer yang semakin mendekati kemampuannya, terutama dalam teknologi baru. Karena itu, Pentagon tidak hanya ingin menambah jumlah persenjataan konvensional. Fokus investasi mulai bergeser menuju sistem otonom, robotika, drone, dan kecerdasan buatan. Menurut Hegseth, keputusan yang dibuat sekarang dapat menentukan posisi militer AS selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perlombaan teknologi menjadi bagian penting dari persaingan strategis Washington dan Beijing.
Modernisasi Militer China Mengubah Perhitungan Washington
Perkembangan kemampuan militer China menjadi salah satu faktor utama di balik dorongan Pentagon mempercepat investasi pertahanan. Hegseth memperingatkan bahwa negara yang terlambat menguasai teknologi baru berisiko kehilangan posisi dalam persaingan jangka panjang. Sistem otonom, kecerdasan buatan, dan robotika kini mampu mengubah cara militer melakukan pengintaian, menentukan sasaran, mengatur logistik, hingga menjalankan operasi tempur. Oleh sebab itu, keunggulan teknologi tidak lagi sekadar mendukung kekuatan militer, tetapi dapat menentukan bagaimana sebuah negara menghadapi konflik masa depan. Hegseth bahkan menggambarkan pembangunan kekuatan militer pesaing AS sebagai salah satu peningkatan terbesar dalam sejarah. Walaupun pernyataannya tidak selalu menyebut Beijing secara langsung, konteks pembahasan mengarah pada modernisasi China. Bagi Washington, persoalannya bukan hanya mengejar jumlah kapal, pesawat, atau rudal. Pentagon juga ingin memastikan teknologi yang menghubungkan berbagai sistem tersebut berkembang dengan kecepatan yang mampu menjaga daya saing Amerika Serikat.
Baca Juga : Taiz Kembali Terjepit Konflik, Warga Yaman Hadapi Krisis Pangan
Project Agincourt Mempercepat Era Perang Otonom
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Project Agincourt, inisiatif Pentagon untuk mempercepat pengembangan drone dan kemampuan peperangan otonom. Hegseth menempatkan program tersebut sebagai bagian penting dari transformasi militer yang sedang berlangsung. Rencana yang diumumkan pada 30 September 2026 itu mencakup pembentukan Autonomous Warfare Command. Pentagon menargetkan komando tersebut dipimpin seorang jenderal bintang empat paling lambat 1 Oktober 2027. Langkah ini memperlihatkan bahwa teknologi otonom mulai bergerak dari proyek eksperimental menuju struktur militer yang lebih permanen. Project Agincourt juga melanjutkan arah beberapa program sebelumnya, termasuk Replicator dari pemerintahan Joe Biden dan Drone Dominance Programme yang diluncurkan pada 2025. Dengan demikian, perubahan pemerintahan tidak menghentikan dorongan menuju teknologi nirawak. Sebaliknya, Pentagon terlihat semakin serius membangun ekosistem yang dapat mengembangkan, memproduksi, menguji, dan mengerahkan sistem otonom dalam skala jauh lebih besar.
Anggaran Senjata Otonom Melonjak Sangat Tajam
Skala investasi terlihat jelas dalam permintaan anggaran tahun fiskal 2027 untuk Defence Autonomous Warfare Group atau DAWG. Pentagon mengajukan US$54,6 miliar, setara sekitar Rp979 triliun, untuk kelompok yang bertugas mengoordinasikan, menguji, dan mengintegrasikan sistem otonom di berbagai ranah militer. Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan alokasi sekitar US$225,9 juta atau Rp4 triliun pada tahun sebelumnya. Berdasarkan angka yang dipaparkan, kenaikannya mendekati 24.000 persen. Dari total dana tersebut, sekitar US$53,6 miliar direncanakan berasal melalui paket rekonsiliasi anggaran senilai US$350 miliar. Sementara itu, sekitar US$1 miliar lainnya masuk melalui permintaan anggaran dasar. Lonjakan tersebut menunjukkan perubahan prioritas yang sangat cepat. Pentagon tampaknya tidak ingin teknologi otonom berkembang hanya melalui sejumlah proyek kecil. Sebaliknya, Washington berupaya membangun kapasitas besar yang mencakup penelitian, pengadaan, integrasi, produksi, serta pengerahan teknologi untuk kebutuhan militer.
Baca Juga :Banjir Bandang Terjang Nepal, Lima Orang Hilang dan Puluhan Rumah Rusak
Drone dan Sistem Penangkal Mendapat Investasi Besar
Sebagian besar anggaran DAWG diarahkan untuk program yang memiliki dampak jangka panjang. Sekitar US$39,2 miliar atau kurang lebih Rp703 triliun ditujukan bagi investasi multitahun dalam pengadaan sistem otonom, peningkatan kapasitas produksi domestik, serta pengembangan kemampuan militer canggih. Selain itu, sekitar US$14,4 miliar atau Rp258 triliun dialokasikan untuk pengembangan dan pengerahan sistem penangkal pesawat nirawak. Pembagian tersebut menunjukkan bahwa Pentagon tidak hanya ingin memiliki lebih banyak drone. Militer AS juga membutuhkan kemampuan untuk menghadapi drone lawan yang semakin murah, banyak, dan sulit dihentikan dengan metode pertahanan konvensional. Dalam konflik modern, pesawat nirawak dapat menjalankan pengintaian, serangan, komunikasi, hingga operasi dalam jumlah besar. Karena itu, keseimbangan antara teknologi drone dan sistem anti-drone menjadi semakin penting. Washington juga berusaha memperkuat industri domestik agar kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan produksi yang cepat ketika situasi keamanan berubah.
AI dan Robotika Menjadi Arena Persaingan Generasi Baru
Perlombaan militer AS dan China kini semakin erat dengan kemajuan kecerdasan buatan serta robotika. Teknologi tersebut berpotensi mempercepat pengolahan informasi dan membantu sistem militer bekerja dengan tingkat otomatisasi lebih tinggi. Namun, transformasi itu juga membawa tantangan besar. Militer harus memastikan teknologi tetap dapat diandalkan dalam kondisi sulit, terlindungi dari gangguan elektronik, dan terintegrasi dengan pasukan manusia. Selain itu, penggunaan sistem otonom memunculkan pertanyaan mengenai kontrol manusia, akuntabilitas, dan aturan pengambilan keputusan dalam operasi bersenjata. Meski demikian, Hegseth menilai negara yang memperoleh keunggulan lebih awal akan memiliki kesempatan memperlebar jarak dengan pesaing. Pandangan tersebut menjelaskan mengapa Pentagon berusaha mempercepat investasi sekarang. Washington tidak ingin sekadar merespons teknologi yang telah digunakan negara lain. Amerika Serikat ingin membangun kemampuan sejak tahap penelitian hingga produksi sehingga inovasi dapat lebih cepat diterapkan dalam struktur militernya.
Anggaran Rp26 Kuadriliun Menunjukkan Besarnya Taruhan Amerika
Permintaan anggaran hampir US$1,5 triliun menunjukkan betapa besar sumber daya yang ingin diarahkan Washington untuk menjaga keunggulan militernya. Namun, nilai fantastis tersebut juga membawa pertanyaan mengenai prioritas, efektivitas belanja, serta kemampuan Pentagon menerjemahkan investasi menjadi teknologi yang benar-benar berfungsi di lapangan. Dana besar tidak otomatis menghasilkan keunggulan apabila proses pengadaan berjalan lambat atau teknologi gagal memenuhi kebutuhan pasukan. Karena itu, keberhasilan strategi ini akan bergantung pada kemampuan militer, industri pertahanan, dan pengembang teknologi bekerja lebih cepat serta terintegrasi. Di sisi lain, peningkatan investasi AS berpotensi mendorong pesaing mempercepat program mereka sendiri. Situasi tersebut membuat persaingan teknologi militer semakin kompleks. Bagi masyarakat dunia, perkembangan ini penting diperhatikan karena keputusan tentang AI, drone, dan sistem otonom hari ini dapat membentuk karakter konflik serta keseimbangan kekuatan internasional selama beberapa dekade mendatang.