Jurnal Tempo – Jet China usir Filipina kembali menjadi sorotan setelah ketegangan muncul di sekitar Scarborough Shoal. China mengerahkan sedikitnya tiga jet latih JL-10 pada Rabu, 2 September 2026. Pesawat tersebut membawa rudal udara-ke-udara PL-5 dan menghadapi tiga pesawat ringan Filipina. Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) kemudian merilis rekaman operasi itu. Dalam rekaman tersebut, sistem elektronik jet China terlihat melacak pesawat Filipina yang berada di kawasan sengketa. Ketiganya terdiri dari BN-2A Islander, C-208, dan PA-31T. Salah satu pesawat bahkan terlihat berada dalam tanda bidik berwarna hijau. Pilot China juga memberikan peringatan melalui radio dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Mereka meminta pesawat Filipina segera meninggalkan wilayah tersebut. Peristiwa ini kembali menunjukkan betapa sensitifnya ruang udara di sekitar Scarborough Shoal bagi Beijing dan Manila.
Peringatan dari Kokpit Menunjukkan Situasi yang Serius
Rekaman yang dipublikasikan PLA memperlihatkan bagaimana pertemuan tersebut berlangsung di udara. Pilot China memperingatkan pesawat Filipina bahwa mereka telah memasuki wilayah udara yang diklaim Beijing. Mereka meminta pesawat tersebut segera meninggalkan kawasan itu. Peringatan juga menyebut kemungkinan tindakan lanjutan jika instruksi tersebut tidak dipatuhi. Momen seperti ini menjadi penting karena memperlihatkan bagaimana sengketa wilayah dapat berubah menjadi pertemuan langsung antara pesawat dua negara. Meski tidak terjadi bentrokan bersenjata, kehadiran rudal pada JL-10 membuat situasi terasa lebih serius. Setiap gerakan dan komunikasi harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi salah perhitungan. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan kecil dapat meningkatkan ketegangan dengan cepat. Bagi awak pesawat yang berada di lokasi, situasi tersebut tentu berbeda dari perdebatan diplomatik di ruang pertemuan. Mereka menghadapi pesawat lain secara langsung di wilayah yang sama-sama dianggap penting oleh kedua negara.
Baca Juga : Malaysia Gelar Hujan Buatan Saat Kabut Asap Kalimantan Memburuk
Scarborough Shoal Menjadi Titik Sengketa Selama Bertahun-tahun
Scarborough Shoal bukan nama baru dalam perselisihan antara China dan Filipina. Atol karang ini dikenal sebagai Huangyan Dao oleh China dan Panatag Shoal di Filipina. Letaknya yang strategis membuat kawasan tersebut memiliki arti besar bagi kedua negara. China telah menguasai akses ke area itu sejak 2012. Kemudian, Beijing mengumumkan garis pangkal laut teritorial di sekitar Scarborough Shoal pada 2024. Filipina menolak klaim tersebut dan tetap menjalankan aktivitas laut maupun udara di kawasan itu. Manila juga mengajukan garis pangkalnya sendiri terkait Scarborough Shoal kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juli 2026. Perbedaan klaim inilah yang membuat setiap patroli memiliki makna politik lebih besar. Kapal atau pesawat yang melintas bukan hanya menjalankan perjalanan biasa. Kehadirannya juga dapat dibaca sebagai bentuk penegasan posisi masing-masing negara. Karena itu, Scarborough Shoal terus menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Beijing dan Manila.
JL-10 Dipilih untuk Menghadapi Pesawat Filipina yang Lambat
Hal menarik dari operasi tersebut adalah penggunaan JL-10 sebagai pesawat utama untuk melakukan pengawalan dan peringatan. Pesawat ini dikenal sebagai jet latih canggih yang juga memiliki kemampuan tempur. Dalam operasi terbaru, JL-10 terlihat membawa rudal udara-ke-udara PL-5. Pemilihan pesawat tersebut berkaitan dengan karakter tiga pesawat Filipina yang bergerak relatif lambat. Pesawat paling lambat di antara ketiganya hanya mampu mencapai kecepatan sekitar 260 kilometer per jam. Kecepatan rendah dapat menjadi tantangan bagi jet tempur modern yang dirancang untuk terbang jauh lebih cepat. Perbedaan karakter penerbangan membuat proses mengikuti dan mengawal target menjadi lebih rumit. Media pemerintah China juga menyoroti masalah tersebut. Dengan karakter terbang yang lebih sesuai, JL-10 dapat memberikan pilihan yang lebih praktis untuk menjalankan tugas pengawasan. Meski demikian, keberadaan rudal tetap menunjukkan bahwa operasi tersebut membawa unsur militer yang jelas.
Baca Juga : Intelijen Ukraina Ungkap Delapan WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
J-16 dan H-6 Juga Terlihat dalam Operasi China
Meski JL-10 mendapat perhatian utama, rekaman PLA menunjukkan kehadiran pesawat militer China lainnya. Jet tempur multirole J-16 dan pesawat pengebom H-6 juga terlihat berada di kawasan tersebut. Kehadiran beberapa jenis pesawat memperlihatkan skala kemampuan udara yang dapat dikerahkan Beijing. Namun, JL-10 tetap menjadi pesawat yang terlihat menjalankan interaksi utama dengan pesawat Filipina. Komando Teater Selatan PLA menyebut patroli tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kontrol atas wilayah laut dan udara terkait. China juga menggambarkannya sebagai respons terhadap aktivitas yang dianggap melanggar hak dan memicu provokasi. Di sisi lain, Filipina tetap mempertahankan posisinya terhadap kawasan yang disengketakan tersebut. Perbedaan pandangan inilah yang membuat patroli rutin memiliki risiko lebih besar. Ketika pesawat militer dan pesawat patroli berada dalam jarak yang relatif dekat, komunikasi yang jelas menjadi penting untuk mencegah kesalahan yang dapat memicu eskalasi.
Patroli Udara Menjadi Bagian dari Persaingan yang Lebih Luas
Pertemuan udara terbaru tidak berdiri sendiri. Filipina sebelumnya mengirim tiga jenis pesawat ringan yang sama untuk berpatroli di atas Scarborough Shoal pada 21 Agustus 2026. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Manila tetap berusaha mempertahankan kehadiran di kawasan yang diklaimnya. Sementara itu, Beijing terus memperkuat patroli dan pengawasan di wilayah tersebut. Pola ini menggambarkan persaingan yang berlangsung melalui kehadiran fisik di laut dan udara. Kedua negara berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak meninggalkan klaim masing-masing. Namun, semakin sering pesawat dan kapal bertemu, semakin besar pula kebutuhan untuk menghindari kesalahan komunikasi. Tidak semua insiden berakhir dengan bentrokan. Meski begitu, jarak dekat antara aset militer selalu membawa risiko. Karena alasan tersebut, Scarborough Shoal bukan hanya persoalan garis pada peta. Kawasan ini menjadi tempat kepentingan nasional, keamanan, dan diplomasi bertemu secara langsung.
Scarborough Shoal Tetap Menjadi Ujian bagi Beijing dan Manila
Insiden terbaru memperlihatkan bahwa ketegangan di Scarborough Shoal masih jauh dari selesai. China tetap menegaskan klaimnya melalui patroli dan pengerahan pesawat. Sebaliknya, Filipina terus menunjukkan kehadirannya di wilayah yang juga dianggap berada dalam kepentingan nasionalnya. Situasi tersebut membuat setiap penerbangan baru berpotensi menarik perhatian regional. Namun, keberadaan pesawat bersenjata tidak selalu berarti konflik terbuka akan terjadi. Diplomasi dan komunikasi militer tetap memiliki peran penting untuk mencegah salah perhitungan. Tantangan terbesar bagi Beijing dan Manila adalah mempertahankan posisi tanpa mengubah persaingan menjadi bentrokan berbahaya. Bagi masyarakat di kawasan Asia Tenggara, stabilitas tetap menjadi kepentingan bersama. Scarborough Shoal mungkin terlihat seperti atol kecil di tengah laut. Namun, peristiwa terbaru menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki bobot geopolitik yang jauh lebih besar daripada ukurannya.