Jurnal Tempo – Presiden Prabowo Subianto membagikan pandangan sederhana tentang kepemimpinan yang justru menyimpan pesan mendalam. Bagi Prabowo, menjalankan negara tidak selalu membutuhkan rumus yang rumit. Seorang pemimpin perlu mencintai rakyat dan memakai akal sehat ketika mengambil keputusan. Prinsip tersebut ia pelajari dari Ben Mboi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur yang dianggap sebagai salah satu gurunya. Prabowo menyampaikan cerita itu saat menghadiri peluncuran dan bedah buku “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” pada Jumat, 7 Agustus 2026. Di tengah pembicaraan mengenai pembangunan, pesan tersebut membawa perhatian kembali pada tujuan dasar pemerintahan. Kebijakan, menurut pandangan yang disampaikan Prabowo, seharusnya tidak berhenti pada angka dan rencana besar. Pada akhirnya, setiap keputusan harus membawa manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Nasihat Ben Mboi yang Terus Diingat Prabowo
Prabowo mengenang Ben Mboi sebagai salah satu tokoh yang memberikan pelajaran penting dalam perjalanan kepemimpinannya. Ben Mboi pernah memimpin Nusa Tenggara Timur pada periode 1978–1988. Namun, pelajaran yang melekat dalam ingatan Prabowo bukan sekadar tentang pengalaman pemerintahan. Pesannya justru sangat sederhana: cintai rakyat dan gunakan akal sehat. Dua prinsip tersebut kemudian menjadi cara Prabowo menjelaskan dasar sebuah keputusan publik. Menurutnya, pemimpin tidak perlu membuat persoalan menjadi lebih rumit apabila kepentingan masyarakat tetap menjadi tujuan utama. Akal sehat membantu melihat masalah secara nyata. Sementara itu, kepedulian kepada rakyat menjaga keputusan agar tidak kehilangan sisi kemanusiaan. Pesan itu terasa relevan karena kebijakan pemerintah sering menyentuh kehidupan jutaan orang. Karena itu, bagi Prabowo, keputusan yang baik perlu berangkat dari kebutuhan masyarakat sekaligus pertimbangan yang masuk akal.
Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah ke
Cinta kepada Rakyat Menjadi Dasar Kebijakan
Dalam pandangan Prabowo, mencintai rakyat bukan sekadar ungkapan yang terdengar baik dalam pidato. Prinsip itu harus terlihat melalui kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Seorang pemimpin menghadapi banyak pilihan ketika mengelola negara. Namun, keputusan tersebut memiliki arti ketika dampaknya sampai kepada orang yang membutuhkan. Karena itu, Prabowo menempatkan kepentingan rakyat bersama penggunaan akal sehat sebagai dasar dalam menentukan arah kebijakan. Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki sisi manusia yang tidak dapat dipisahkan dari angka ekonomi atau target pembangunan. Pemerintah tetap membutuhkan data dan perencanaan. Meski begitu, kehidupan masyarakat harus menjadi ukuran penting dalam melihat hasil sebuah program. Ketika kebutuhan warga menjadi pertimbangan utama, kebijakan memiliki tujuan yang lebih jelas. Bagi Prabowo, kombinasi antara kepedulian dan logika itulah yang dapat membantu pemerintah tetap berada pada arah yang tepat.
Akal Sehat Diterapkan dalam Hilirisasi
Prabowo kemudian menghubungkan prinsip tersebut dengan kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah. Menurutnya, hilirisasi merupakan salah satu contoh penggunaan akal sehat dalam mengelola kekayaan nasional. Gagasan dasarnya adalah meningkatkan nilai tambah sumber daya sebelum manfaat ekonominya berpindah lebih jauh. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanya berbicara tentang apa yang dimiliki Indonesia. Pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana kekayaan itu dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat. Hilirisasi tentu membutuhkan investasi, tenaga kerja, teknologi, serta perencanaan jangka panjang. Oleh sebab itu, keberhasilannya juga bergantung pada pelaksanaan yang konsisten. Dalam konteks pesan Prabowo, kebijakan ekonomi seharusnya memiliki hubungan nyata dengan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan menjadi lebih bermakna ketika membuka kesempatan kerja dan memperkuat ekonomi. Dengan demikian, prinsip cinta kepada rakyat dan akal sehat mendapatkan bentuk yang lebih konkret dalam agenda pembangunan.
Baca Juga :Airlangga Optimistis Ekono
Swasembada Pangan Dipandang sebagai Kebutuhan Dasar
Selain hilirisasi, Prabowo menempatkan swasembada pangan sebagai kebijakan yang berangkat dari kebutuhan mendasar sebuah negara. Menurutnya, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan memiliki hubungan erat dengan keamanan nasional. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pangan tidak hanya menjadi persoalan produksi pertanian. Ketersediaannya juga berkaitan dengan daya tahan masyarakat ketika menghadapi tekanan ekonomi atau gangguan pasokan. Karena itu, swasembada pangan menjadi salah satu contoh kebijakan yang ia nilai masuk akal. Bagi masyarakat, isu ini terasa sangat dekat karena harga dan ketersediaan bahan makanan memengaruhi kehidupan setiap hari. Namun, mencapai ketahanan pangan membutuhkan kerja panjang. Produksi petani, distribusi, teknologi, infrastruktur, dan kestabilan harga harus berjalan bersama. Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan memberikan manfaat bagi produsen sekaligus konsumen. Dalam kerangka pemikiran Prabowo, kebutuhan paling mendasar masyarakat harus mendapat perhatian karena menyangkut rasa aman dan keberlanjutan kehidupan.
Pesan Cak Noer tentang Senyum Rakyat Kecil
Prabowo juga mengenang Mohammad Noer atau Cak Noer, mantan Gubernur Jawa Timur periode 1967–1976, sebagai mentor lainnya. Dari Cak Noer, ia mendapatkan pesan tentang ukuran sederhana keberhasilan seorang pemimpin. Menurut cerita Prabowo, seorang pemimpin harus bekerja agar rakyat kecil dapat tersenyum. Kalimat sederhana tersebut membawa makna yang luas. Senyum masyarakat paling lemah dapat menggambarkan hadirnya harapan ketika kehidupan mereka mulai membaik. Karena itu, pembangunan seharusnya tidak hanya terlihat melalui proyek besar atau angka pertumbuhan. Dampaknya juga perlu dirasakan oleh keluarga berpenghasilan rendah dan masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap kesempatan ekonomi. Perspektif tersebut membawa ukuran keberhasilan pemerintahan lebih dekat kepada pengalaman manusia. Ketika kelompok paling rentan mulai memiliki harapan, pembangunan memperoleh makna sosial yang lebih kuat. Pesan Cak Noer pun melengkapi pelajaran Ben Mboi yang terus diingat Prabowo.
Harapan Rakyat Menjadi Ukuran Arah Pembangunan
Dua pelajaran dari Ben Mboi dan Cak Noer bertemu pada satu gagasan yang sama, yaitu rakyat harus berada di pusat kepemimpinan. Prabowo meyakini pemerintah akan tetap berada pada jalur yang benar selama pekerjaannya mampu memberikan harapan kepada masyarakat yang paling tidak berdaya. Gagasan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan besar. Harapan tidak cukup dibangun melalui kata-kata. Masyarakat membutuhkan hasil yang terlihat dalam pekerjaan, pangan, pendidikan, layanan publik, dan kesempatan memperbaiki kehidupan. Oleh karena itu, keberhasilan prinsip tersebut akan bergantung pada pelaksanaannya dalam kebijakan nyata. Cinta kepada rakyat memberikan arah moral, sedangkan akal sehat membantu memilih langkah yang masuk akal. Namun, hasil akhirnya tetap harus diuji melalui pengalaman masyarakat. Jika kehidupan kelompok paling lemah semakin baik dan mereka memiliki masa depan yang lebih menjanjikan, pesan sederhana tentang kepemimpinan itu mendapatkan arti yang sesungguhnya.