Jurnal Tempo – Gedung hunian ambruk di Lebanon kembali menjadi kabar duka yang menyayat, kali ini terjadi di Kota Tripoli pada Minggu (8/2/2026). Dua bangunan yang berdiri bersebelahan roboh dan menewaskan sedikitnya 15 orang. Peristiwa ini bukan hanya soal angka korban, melainkan juga potret keras tentang bagaimana infrastruktur yang tua dan diabaikan bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi warga. Di tengah situasi ekonomi Lebanon yang masih rapuh, tragedi seperti ini terasa seperti bom waktu yang akhirnya meledak, karena banyak bangunan di Tripoli memang sudah lama berada dalam kondisi mengkhawatirkan.
Dua Bangunan di Tripoli Roboh dan Memakan Korban Jiwa
Gedung hunian ambruk di Lebanon terjadi di lingkungan Bab al-Tabbaneh, salah satu kawasan padat di Tripoli. Dua bangunan hunian yang berdempetan runtuh dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Direktur Jenderal Pertahanan Sipil Lebanon, Imad Khreiss, menyebut tim penyelamat berhasil mengevakuasi delapan orang dari reruntuhan. Namun, jumlah korban meninggal tercatat mencapai 15 orang. Di titik ini, suasana penyelamatan bukan sekadar operasi teknis, melainkan perlombaan dengan waktu. Setiap menit berarti, karena korban yang tertimbun masih mungkin selamat jika ditangani cepat.
“Baca Juga : Sanae Takaichi Menang Telak Pemilu Jepang, Janji Ekonomi Lebih Tangguh“
Jumlah Warga yang Masih Hilang Belum Bisa Dipastikan
Gedung hunian ambruk di Lebanon juga memunculkan pertanyaan besar: berapa orang yang masih tertimbun? Kepala dewan kota Tripoli, Abdel Hamid Karimeh, mengatakan ia belum bisa memastikan jumlah warga yang masih hilang. Meski begitu, berdasarkan keterangan awal layanan penyelamatan, kedua bangunan itu diperkirakan dihuni sekitar 22 orang. Artinya, ada kemungkinan korban masih bertambah. Kondisi seperti ini selalu menyisakan ketidakpastian yang menyakitkan, terutama bagi keluarga yang menunggu kabar. Dalam tragedi bangunan runtuh, rasa takut sering kali bukan hanya soal kehilangan, tetapi juga soal menunggu tanpa kepastian.
Tim Penyelamat Berjuang di Tengah Reruntuhan yang Tidak Stabil
Gedung hunian ambruk di Lebanon membuat tim penyelamat bekerja dalam situasi yang sangat berisiko. Reruntuhan bangunan tua biasanya tidak stabil, sehingga proses evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati. Selain itu, struktur yang rapuh dapat runtuh kembali sewaktu-waktu. Namun, di sisi lain, penyelamatan tidak bisa terlalu lambat. Inilah dilema yang selalu muncul: bergerak cepat untuk menyelamatkan nyawa, tetapi tetap menjaga keselamatan petugas. Dalam banyak kasus, tim SAR bekerja dengan tekanan psikologis tinggi karena mereka tahu suara kecil di balik puing bisa hilang kapan saja.
“Baca Juga : Pentagon Putus Hubungan Akademik dengan Harvard, Anggap Bikin Tentara Jadi Radikal“
Tripoli Berkali-kali Mengalami Bangunan Tua Ambruk
Gedung hunian ambruk di Lebanon bukan pertama kali terjadi di Tripoli. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah bangunan tua di kota terbesar kedua Lebanon ini juga dilaporkan runtuh. Fakta ini menunjukkan bahwa tragedi tersebut bukan insiden tunggal, melainkan gejala dari masalah yang lebih besar. Tripoli seperti sedang hidup di atas fondasi rapuh yang perlahan runtuh dari dalam. Banyak bangunan berusia puluhan tahun, namun tetap dihuni karena warga tidak punya pilihan lain. Ketika kondisi ekonomi memburuk, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi ancaman.
Infrastruktur Memburuk karena Minim Perawatan Bertahun-tahun
Gedung hunian ambruk di Lebanon menyoroti potret buram infrastruktur yang memburuk akibat pengabaian selama bertahun-tahun. Menurut Karimeh, banyak bangunan di Tripoli berusia 60 hingga 70 tahun dan sudah melampaui masa pakai strukturalnya. Tanpa perawatan penting, risiko runtuh meningkat tajam. Secara logika, bangunan tua seperti tubuh manusia yang terus dipaksa bekerja tanpa perawatan. Jika retak kecil dibiarkan, ia akan menjadi kerusakan besar. Masalahnya, di Tripoli, banyak retakan bukan hanya dibiarkan, tetapi bahkan tidak tercatat.