Jurnal Tempo – Kabar AS Tangkap Nicolas Maduro Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat langsung mengguncang panggung politik internasional. Operasi militer berskala besar yang dinamai Operation Absolute Resolve dilaporkan melibatkan ratusan pesawat dan serangan ke sejumlah wilayah strategis di Venezuela, termasuk Caracas. Dalam hitungan jam, seorang kepala negara diekstraksi keluar dari wilayah kedaulatannya dan dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan narkotika serta konspirasi senjata. Di satu sisi, sebagian pihak melihat peristiwa ini sebagai akhir dari rezim yang dianggap represif. Namun di sisi lain, muncul kegelisahan global tentang batas kewenangan negara adidaya. Lebih jauh lagi, penangkapan ini membuka luka lama dalam hubungan internasional: sejauh mana kekuatan militer boleh digunakan untuk menegakkan keadilan versi satu negara?
Tuduhan AS dan Narasi Perubahan Rezim
Amerika Serikat telah lama menuduh Maduro sebagai pemimpin “narko-teroris” yang melindungi jaringan perdagangan narkoba internasional. Tuduhan ini pertama kali menguat pada masa jabatan awal Donald Trump dan kembali mengeras pada periode kepemimpinan keduanya. Meski demikian, bukti yang dipublikasikan ke ruang publik relatif terbatas. Di balik narasi penegakan hukum, banyak analis melihat adanya pola klasik perubahan rezim. Tekanan ekonomi, sanksi, operasi militer, hingga penangkapan pemimpin negara menjadi rangkaian strategi yang sering digunakan AS di berbagai belahan dunia. Apalagi, Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia. Karena itu, sulit memisahkan motif hukum dari kepentingan geopolitik dan energi yang selama ini membayangi kebijakan Washington terhadap Caracas.
“Baca Juga : China dan Rusia Diam-diam Mengincar Venezuela: Strategi Sunyi di Balik Ketegangan Global“
Reaksi Dunia Internasional yang Terbelah
Respons global terhadap penangkapan Maduro mencerminkan dunia yang semakin terpolarisasi. Sejumlah negara Barat dan kelompok oposisi Venezuela menyambut langkah AS sebagai peluang perubahan politik. Sebaliknya, negara-negara seperti China dan Rusia mengecam keras tindakan tersebut. Beijing menyebut penangkapan Maduro sebagai tindakan hegemonik dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Nada serupa disampaikan Moskwa yang menilai AS telah menciptakan preseden berbahaya. Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa isu Maduro bukan semata persoalan hukum, melainkan cermin perebutan pengaruh global. Dengan demikian, legitimasi tindakan AS tidak hanya diuji di pengadilan, tetapi juga di mata komunitas internasional yang terpecah antara kepentingan, ideologi, dan prinsip kedaulatan negara.
Prinsip Kedaulatan dalam Piagam PBB
Dalam hukum internasional, kedaulatan negara adalah prinsip fundamental. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Pasal 2 ayat 4, secara tegas melarang penggunaan kekuatan terhadap keutuhan wilayah dan kemerdekaan politik negara lain. Amerika Serikat sendiri merupakan penandatangan awal Piagam PBB pada 1945. Oleh karena itu, banyak akademisi hukum internasional menilai operasi penangkapan Maduro bertentangan dengan komitmen tersebut. Tanpa mandat Dewan Keamanan PBB atau persetujuan negara bersangkutan, tindakan ekstrateritorial semacam ini dinilai melanggar hukum internasional. Meski AS berargumen bahwa Maduro bukan presiden sah, status legitimasi politik tidak otomatis menghapus perlindungan kedaulatan yang diakui hukum internasional.
Legalitas Penangkapan Kepala Negara
Dalam praktik hukum internasional, kepala negara aktif umumnya menikmati kekebalan hukum (head of state immunity). Kekebalan ini bertujuan menjaga stabilitas hubungan antarnegara, bukan melindungi kejahatan. Namun, pengecualian biasanya hanya berlaku melalui pengadilan internasional atau mekanisme multilateral. Penangkapan sepihak oleh negara lain, terlebih melalui operasi militer, jarang dibenarkan. Bahkan dalam kasus dugaan kejahatan berat, prosedur hukum internasional menuntut proses yang transparan dan kolektif. Oleh sebab itu, banyak pakar menilai bahwa meskipun tuduhan terhadap Maduro serius, cara penangkapannya tetap bermasalah secara hukum. Proses yang dianggap melanggar prosedur justru berisiko melemahkan klaim moral yang ingin dibangun AS.
Dampak Jangka Panjang bagi Tatanan Global
Kasus penangkapan Maduro berpotensi menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional. Jika satu negara dapat menangkap pemimpin negara lain dengan dalih penegakan hukum, maka prinsip kedaulatan berisiko terkikis. Negara-negara kecil bisa semakin rentan terhadap intervensi kekuatan besar. Selain itu, kepercayaan terhadap sistem hukum internasional dapat melemah jika mekanisme multilateral diabaikan. Di tengah dunia yang sudah penuh ketegangan geopolitik, langkah semacam ini berpotensi memicu eskalasi konflik dan balasan politik. Dengan demikian, perdebatan soal sah atau tidaknya penangkapan Maduro bukan hanya soal Venezuela, melainkan tentang masa depan tatanan hukum internasional itu sendiri.