Jurnal Tempo – Setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar kebijakan tarif global yang diterapkan Presiden Donald Trump, ia segera mengumumkan langkah baru. Pada Jumat malam, Trump mengumumkan penerapan tarif 10 persen untuk barang impor dari seluruh dunia. Keputusan ini diambil sebagai pengganti tarif yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Meskipun keputusan pengadilan itu membatasi wewenangnya, Trump tetap menganggap kebijakan tarif adalah cara yang sah untuk melindungi industri domestik dan memperbaiki defisit perdagangan.
Trump Menggunakan Undang-Undang Berbeda untuk Menetapkan Tarif
Trump mengungkapkan bahwa ia menggunakan dasar hukum baru untuk memberlakukan tarif 10 persen. Ia memanfaatkan Section 122 dari Trade Act of 1974 untuk tetap mempertahankan kebijakan proteksionisnya. Trump menyatakan bahwa tarif impor sangat diperlukan untuk mendukung sektor manufaktur di dalam negeri dan mendorong investasi. Ini menunjukkan tekadnya untuk terus memperjuangkan kebijakan tarif meski menghadapi hambatan hukum.
“Baca Juga : Trump Ungkap Chat Pribadinya dengan Macron dan Sekjen NATO Soal Isu Greenland“
Reaksi Global Terhadap Kebijakan Tarif Trump
Langkah Trump ini mendapat perhatian luas, terutama dari negara-negara mitra dagang utama AS. Negara-negara seperti Kanada dan China menyuarakan kekhawatiran terkait dampak tarif terhadap hubungan perdagangan internasional. Beberapa pihak berpendapat bahwa kebijakan ini bisa menyebabkan lonjakan harga barang dan memperburuk ketegangan ekonomi global. Sebaliknya, Trump melihat tarif ini sebagai cara untuk memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan dan meningkatkan daya saing ekonomi AS.
Pengaruh Tarif terhadap Konsumen dan Pelaku Bisnis
Pemberlakuan tarif 10 persen ini diharapkan membawa konsekuensi bagi konsumen AS, mengingat barang-barang impor akan menjadi lebih mahal. Beberapa pelaku bisnis kecil juga mengkhawatirkan dampak tarif ini terhadap operasi mereka. Mereka menilai biaya yang lebih tinggi akan mengalir ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih mahal. Namun, pemerintahan Trump meyakini bahwa kebijakan ini akan membantu memperkuat ekonomi domestik dalam jangka panjang.
“Baca Juga : Nilai Tukar Rial Iran Anjlok Parah, Rp 20.000 Kini Setara Jutaan“
Proses Hukum yang Belum Selesai
Meski Trump sudah menetapkan tarif baru, proses hukum terkait kebijakan tarif ini belum selesai. Mahkamah Agung AS telah menegaskan bahwa hanya Kongres yang memiliki kewenangan penuh untuk menetapkan tarif dalam keadaan damai. Oleh karena itu, langkah Trump bisa terus menghadapi tantangan hukum di masa depan. Namun, ia tetap optimistis bahwa kebijakan tarif ini akan membawa hasil positif bagi perekonomian AS.
Dampak Tarif 10 Persen Terhadap Pasar Global
Keputusan Trump untuk memberlakukan tarif 10 persen ini dapat mempengaruhi pasar global secara signifikan. Negara-negara yang menjadi mitra dagang utama AS perlu menyesuaikan kebijakan mereka dengan perubahan ini. Tarif yang lebih tinggi dapat memperburuk ketegangan perdagangan yang sudah ada dan mempengaruhi stabilitas pasar global. Sementara itu, AS berpotensi mendapatkan keuntungan dari kebijakan ini dengan meningkatkan produksi domestik dan mengurangi defisit perdagangan.
Perubahan dalam Strategi Perdagangan AS
Langkah Trump ini menunjukkan bagaimana kebijakan perdagangan AS terus berkembang seiring dengan dinamika global. Keputusan untuk menerapkan tarif seragam 10 persen bisa menjadi strategi jangka panjang untuk mengatasi masalah perdagangan global. Meskipun ada banyak pro dan kontra terkait kebijakan ini, dampaknya terhadap perekonomian global dan hubungan internasional tetap menjadi perdebatan yang belum usai.