Jurnal Tempo – Perayaan Idul Fitri selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Di berbagai belahan dunia, hari kemenangan ini disambut dengan suka cita. Namun, bagaimana jika perayaan ini terjadi di kamp pengungsi Rohingya? Inilah yang dialami ribuan pengungsi Rohingya. Mereka harus merayakan Idul Fitri dalam keterbatasan. Meski demikian, kebahagiaan tetap terpancar di wajah mereka. Suasana haru dan bahagia menyatu dalam satu perasaan.
“Baca Juga : Demo Anti-Hamas di Gaza: Ratusan Warga Turun ke Jalan”
Di kamp pengungsi Rohingya, salat Ied tetap dilaksanakan. Para pengungsi berkumpul di area terbuka untuk beribadah. Dengan perlengkapan seadanya, mereka berusaha merasakan makna Idul Fitri. Sebagian besar mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki. Ada yang mendapat sumbangan pakaian dari organisasi kemanusiaan. Sementara lainnya mengenakan pakaian lama yang sudah lusuh. Namun, semangat beribadah tetap membara dalam hati mereka.
Setelah satu bulan berpuasa, takjil menjadi bagian penting dalam perayaan ini. Di kamp pengungsi, makanan berbuka puasa sangat terbatas. Banyak dari mereka hanya berbuka dengan air putih dan roti kering. Beberapa organisasi kemanusiaan menyediakan makanan tambahan. Mereka membagikan kurma, nasi, dan lauk pauk sederhana. Momen berbuka ini menjadi waktu bagi para pengungsi untuk berkumpul. Mereka duduk bersama, berbagi makanan, dan saling menguatkan satu sama lain.
“Simak juga: BPJS Sandra Dewi Ditanggung APBD, Apa Saja Tanggapannya?”
Anak-anak di kamp pengungsi juga merasakan suasana Lebaran. Meski tanpa baju baru atau mainan mahal, mereka tetap ceria. Beberapa relawan membagikan permen dan balon untuk anak-anak. Wajah mereka berseri-seri saat menerima hadiah kecil itu. Suasana bahagia sejenak menghapus kepedihan hidup mereka. Permainan tradisional juga dimainkan untuk menghibur mereka. Tawa dan canda menghiasi hari kemenangan di tengah penderitaan.
Banyak organisasi kemanusiaan memberikan bantuan saat Idul Fitri tiba. Mereka membagikan makanan, pakaian, dan perlengkapan ibadah. Bantuan ini sangat berarti bagi para pengungsi yang hidup dalam kesulitan. Selain kebutuhan pokok, ada juga yang memberikan bantuan pendidikan. Anak-anak diberikan buku dan alat tulis untuk masa depan mereka. Bantuan ini menjadi harapan bagi kehidupan yang lebih baik.
Meskipun tinggal di kamp pengungsi, tradisi Idul Fitri tetap dilakukan. Pengungsi saling bermaafan dan mengunjungi satu sama lain. Mereka berusaha menciptakan suasana hangat meski jauh dari rumah. Doa bersama dilakukan untuk mendoakan keluarga yang terpisah. Mereka berharap suatu hari bisa merayakan Lebaran di tanah kelahiran mereka. Semangat mereka untuk mempertahankan tradisi sangat kuat.