Jurnal Tempo – Dunia kesehatan kembali diguncang oleh kemunculan perangkat kontroversial bernama kalung euthanasia. Alat ini diciptakan oleh Dr Philip Nitschke, dokter asal Australia yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai aktivis hak bunuh diri medis. Publik langsung bereaksi keras setelah perangkat tersebut diperkenalkan dalam sebuah forum internasional. Bagi sebagian orang, inovasi ini dianggap melampaui batas kemanusiaan. Bagi yang lain, alat tersebut memunculkan kembali diskusi lama tentang hak individu atas tubuh dan hidupnya sendiri. Media sosial menjadi ruang paling bising, dipenuhi kemarahan, ketakutan, dan keprihatinan. Isu ini tidak hanya menyentuh ranah medis, tetapi juga nilai moral, budaya, dan sosial. Kalung euthanasia menjadi simbol ketegangan antara kemajuan teknologi dan pertanyaan mendasar tentang arti hidup serta kematian.
Sosok Dr Philip Nitschke di Balik Inovasi
Dr Philip Nitschke bukan nama baru dalam perdebatan euthanasia. Ia telah lama dikenal sebagai pendiri Exit International, organisasi yang mengampanyekan hak bunuh diri medis. Sepanjang kariernya, ia kerap memicu kontroversi melalui berbagai alat bantu kematian, termasuk “pod bunuh diri” yang sempat menghebohkan publik Eropa. Bagi pendukungnya, Nitschke adalah figur yang berani menantang sistem demi otonomi pasien. Namun bagi para pengkritik, ia dianggap melampaui etika profesi kedokteran. Kalung euthanasia memperkuat citra tersebut. Sosok Nitschke kini berdiri di tengah badai kritik, dipandang sebagai simbol pergeseran ekstrem dalam praktik medis. Kehadirannya memaksa dunia bertanya, sejauh mana peran dokter dalam menentukan akhir kehidupan seseorang.
“Baca Juga : Tiga Tahun ChatGPT: Dari Eksperimen Riset ke Asisten Digital Sehari-hari”
Gambaran Umum Cara Kerja Perangkat
Dalam penjelasan publiknya, Dr Philip Nitschke menggambarkan kalung euthanasia sebagai perangkat mekanis yang bekerja sangat cepat. Ia menyebut prinsip kerjanya menyerupai sistem airbag pada mobil, yang aktif dalam hitungan detik. Perangkat ini dirancang untuk memberikan tekanan pada area leher tertentu sehingga mengganggu suplai darah ke otak. Penjelasan tersebut disampaikan secara teknis dalam forum akademik, namun tetap menuai kegelisahan luas. Banyak pihak menilai bahwa detail mekanisme, meski disampaikan dalam konteks medis, terasa mengerikan bagi publik awam. Penjelasan ini memicu perdebatan tentang batas informasi yang seharusnya disampaikan ke ruang publik. Di satu sisi, transparansi ilmiah dianggap penting. Di sisi lain, ada kekhawatiran akan dampak psikologis dan sosial dari narasi semacam ini.
Gelombang Kritik Etika dan Kemanusiaan
Kritik terhadap kalung euthanasia datang dari berbagai arah, mulai dari praktisi kesehatan, akademisi, hingga masyarakat umum. Banyak yang menilai perangkat tersebut mencerminkan pendekatan anti-kemanusiaan. Reaksi emosional membanjiri media sosial, dengan ungkapan kemarahan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Sejumlah pengguna menegaskan bahwa fokus dunia medis seharusnya pada peningkatan kualitas hidup, bukan penyediaan alat kematian. Kritik juga menyinggung tanggung jawab moral dokter, yang secara tradisional terikat pada sumpah untuk melindungi kehidupan. Dalam konteks ini, kalung euthanasia dianggap melanggar nilai dasar profesi kesehatan. Gelombang kritik tersebut menunjukkan bahwa inovasi medis tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berhadapan dengan nilai, empati, dan rasa kemanusiaan kolektif.
“Baca Juga : Minum Kopi di Pagi Hari, Kebiasaan Sederhana dengan Dampak Panjang”
Euthanasia, Hukum, dan Batasan Negara
Isu euthanasia sendiri memiliki kerangka hukum yang berbeda di setiap negara. Swiss, misalnya, memperbolehkan bunuh diri medis dengan syarat yang sangat ketat. Namun penggunaan alat tertentu tetap diawasi secara ketat oleh otoritas. Kasus-kasus sebelumnya menunjukkan bahwa pelanggaran kecil saja bisa berujung konsekuensi hukum serius. Dalam konteks ini, kalung euthanasia menimbulkan pertanyaan besar tentang regulasi lintas negara. Apakah perangkat semacam ini dapat dikendalikan secara hukum? Bagaimana mencegah penyalahgunaan? Ketika teknologi bergerak lebih cepat daripada regulasi, risiko meningkat. Perdebatan ini memperlihatkan betapa kompleksnya mengatur praktik yang menyentuh hidup dan mati, terutama ketika inovasi tidak mengenal batas geografis.
Kesehatan Mental sebagai Isu yang Tak Terpisahkan
Di balik kontroversi besar ini, para ahli menegaskan satu hal penting: kesehatan mental tidak boleh diabaikan. Keinginan untuk mengakhiri hidup sering kali berakar pada depresi, rasa putus asa, atau penderitaan psikologis yang mendalam. Banyak pihak mengingatkan bahwa solusi utama seharusnya berupa dukungan, perawatan, dan pendampingan profesional. Konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan jiwa menjadi langkah krusial. Dalam konteks ini, diskusi tentang kalung euthanasia memunculkan kekhawatiran akan normalisasi keputusasaan. Isu ini mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan empati dan tanggung jawab sosial. Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan keduanya menuntut perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat.