Jurnal Tempo – Banyak orangtua mengira anak yang mendadak mudah marah setelah liburan hanya sedang “malas sekolah”. Padahal, perubahan suasana hati itu sering muncul karena anak sedang beradaptasi dengan dunia yang berubah cepat. Selama liburan, anak merasa bebas, lebih banyak bermain, dan jarang ditekan jadwal. Namun, begitu sekolah kembali dimulai, ritme hidup langsung bergeser. Akibatnya, anak lebih sensitif, gampang tersinggung, atau kehilangan semangat. Selain itu, anak belum selalu mampu menjelaskan perasaannya dengan kata-kata. Karena itu, emosi sering keluar lewat perilaku. Di titik ini, orangtua perlu melihat perubahan tersebut bukan sebagai kenakalan, melainkan sebagai pesan. Jika kita mendengarkan lebih dalam, sering kali ada kelelahan emosional yang selama ini tertutup oleh euforia liburan.
Transisi dari Bebas ke Teratur Membuat Anak Mudah “Meledak”
Transisi setelah liburan memang tidak mudah, bahkan untuk orang dewasa. Apalagi untuk anak yang masih belajar mengatur emosi. Saat liburan, anak terbiasa tidur lebih larut, bangun lebih siang, dan bermain tanpa batas. Lalu, tiba-tiba mereka harus kembali ke jam sekolah, tugas, dan aturan yang ketat. Karena itu, tubuh dan pikiran anak bisa terasa seperti “ditarik paksa” masuk ke rutinitas baru. Selain itu, perubahan mendadak sering membuat anak merasa kehilangan kendali. Mereka mungkin tidak tahu cara mengungkapkan rasa tidak nyaman itu, sehingga memilih melawan, menangis, atau marah. Di sinilah orangtua sering salah paham. Padahal, yang dibutuhkan anak bukan omelan, melainkan jembatan adaptasi. Dengan dukungan yang lembut, anak biasanya lebih cepat kembali stabil, karena mereka merasa tidak sendirian menghadapi perubahan.
“Baca Juga : Dari Padel hingga Kardio: Tren Olahraga 2025 yang Menjadi Gaya Hidup“
Tekanan Akademik yang Dipendam Bisa Muncul Setelah Liburan
Awal masuk sekolah sering berbarengan dengan ujian, target nilai, atau tuntutan akademik yang lebih tinggi. Di sinilah banyak anak diam-diam memendam tekanan. Mereka mungkin takut gagal, takut dimarahi, atau merasa harus selalu sempurna. Sayangnya, tekanan itu tidak selalu muncul sebagai keluhan “aku stres”. Justru sering muncul sebagai sakit perut, sakit kepala, atau tiba-tiba enggan berangkat sekolah. Selain itu, ada anak yang terlihat terlalu keras pada dirinya sendiri, lalu kehilangan percaya diri. Ini bukan sekadar drama anak-anak, melainkan reaksi nyata dari beban mental yang tidak tersalurkan. Karena itu, penting bagi orangtua untuk menanyakan hal-hal sederhana dengan nada hangat. Kadang, anak hanya butuh satu kalimat aman seperti, “Kalau kamu takut, bilang ya. Kita cari jalan bareng-bareng.”
Tidur Berantakan dan Screen Time Bisa Mengacaukan Emosi
Selama liburan, pola tidur anak sering berubah tanpa disadari. Mereka tidur larut, bangun siang, lalu menghabiskan waktu lebih banyak di depan layar. Akibatnya, tubuh kehilangan ritme alami. Selain itu, screen time yang tinggi juga bisa memengaruhi hormon stres dan fokus. Anak mungkin terlihat cepat marah, sulit berkonsentrasi, dan gampang lelah meski sudah tidur. Terlebih lagi, pada remaja, pola tidur yang kacau bisa memperburuk kecemasan, bahkan memicu gejala depresi ringan. Masalahnya, banyak orangtua baru sadar ketika anak mulai “berubah” secara emosional. Padahal, penyebabnya bisa sesederhana kurang tidur dan terlalu banyak stimulasi. Karena itu, mengembalikan jam tidur dan membatasi layar sebelum tidur sering menjadi langkah kecil yang efeknya besar. Dengan ritme tubuh yang lebih stabil, emosi anak biasanya ikut membaik.
“Baca Juga : Servis Gratis dan Uluran Tangan Negara: Cara Polri Membantu Warga Bangkit dari Banjir Sumatera“
Tanda Wajar dan Tanda Bahaya Itu Berbeda Tipis
Sedikit rewel di minggu pertama sekolah masih tergolong wajar. Namun, orangtua perlu lebih waspada jika perubahan itu bertahan lebih dari dua sampai tiga minggu. Selain itu, tanda bahaya biasanya muncul ketika anak mulai menarik diri, tidak mau beraktivitas, atau kehilangan minat pada hal yang dulu mereka sukai. Ada juga perubahan nafsu makan, sulit tidur, atau ucapan seperti “aku capek hidup” yang sering dianggap bercanda. Padahal, kalimat seperti itu bisa menjadi sinyal serius. Karena itu, orangtua tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh mengabaikan. Jika gejala mulai mengganggu sekolah dan aktivitas harian, konsultasi dengan profesional menjadi langkah bijak. Semakin cepat masalah dikenali, semakin besar peluang anak kembali stabil tanpa luka emosional yang panjang. Pada akhirnya, anak tidak butuh orangtua yang sempurna, tetapi orangtua yang peka.
Peran Orangtua: Menjadi Tempat Aman, Bukan Tempat Menghakimi
Psikiater anak menjelaskan bahwa anak sering tidak mampu menjelaskan apa yang mereka rasakan. Karena itu, perubahan perilaku menjadi bahasa pertama yang mereka gunakan. Di sinilah peran orangtua sangat penting. Alih-alih berkata “itu cuma fase”, orangtua bisa mencoba mendekat dengan empati. Misalnya, menyediakan waktu ngobrol tanpa menginterogasi, mendengarkan tanpa langsung menyalahkan, dan memberi ruang untuk anak mengekspresikan rasa takutnya. Selain itu, orangtua bisa membantu dengan langkah praktis seperti mengembalikan jadwal makan, tidur, dan aktivitas fisik. Hal-hal sederhana ini memberi rasa aman pada anak. Yang paling penting, anak perlu tahu bahwa rumah adalah tempat yang tidak membuat mereka merasa kecil. Ketika anak merasa diterima, mereka lebih mudah pulih. Dan ketika anak pulih, hubungan keluarga pun terasa lebih hangat dan kuat.