Jurnal Tempo – Nicolás Maduro Moros lahir di Caracas pada 23 November 1962, tumbuh di lingkungan kelas pekerja yang membentuk pandangan hidup dan politiknya sejak muda. Sebelum dikenal dunia sebagai presiden, Maduro menjalani kehidupan sederhana sebagai sopir bus di sistem metro Caracas. Namun, di balik rutinitas itu, ia aktif dalam serikat buruh dan gerakan pekerja, ruang yang menjadi pintu masuknya ke dunia politik kiri Venezuela. Pada akhir 1990-an, gelombang ketidakpuasan terhadap elite lama membuka peluang bagi figur baru dari akar rumput. Di sinilah Maduro mulai dikenal sebagai orator vokal dan organisator yang konsisten. Pengalaman hidupnya membuat ia mudah terhubung dengan kelompok masyarakat bawah. Secara bertahap, jaringan politiknya terbentuk. Latar belakang ini kelak menjadi narasi utama yang ia gunakan untuk membangun legitimasi politik sebagai pemimpin “anak rakyat” yang mengklaim memahami penderitaan masyarakat Venezuela.
Kesetiaan pada Hugo Chávez dan Revolusi Bolivarian
Langkah besar Maduro terjadi ketika ia menjadi pendukung setia Hugo Chávez, tokoh sentral Revolusi Bolivarian. Kesetiaan ini bukan sekadar simbolik, melainkan teruji dalam kerja politik nyata. Pada 1999, Maduro terpilih sebagai anggota Majelis Konstituante Nasional yang menyusun ulang konstitusi Venezuela. Peran ini mengangkat namanya ke panggung nasional. Seiring waktu, Chávez melihat Maduro sebagai figur yang disiplin, loyal, dan mampu menerjemahkan ide revolusi ke dalam praktik politik. Hubungan mentor dan murid ini memperkuat posisi Maduro di internal partai. Ia tidak hanya menjadi pembela kebijakan Chávez, tetapi juga juru bicara ideologis yang gigih. Dari sinilah Maduro membangun identitas politiknya sebagai penjaga warisan Chávez. Kesetiaan tersebut menjadi modal utama yang kelak mengantarkannya ke lingkaran kekuasaan tertinggi Venezuela.
“Baca Juga : Bakti BCA Hadir di Sumatera: Merajut Harapan Korban Banjir Lewat Bantuan Nyata”
Karier Legislatif dan Wajah Diplomasi Venezuela
Setelah menancapkan pengaruh di majelis konstituante, karier Maduro terus menanjak di parlemen. Ia menjabat sebagai anggota legislatif nasional dan kemudian dipercaya menjadi Ketua Majelis Nasional. Posisi ini memberinya pengalaman mengelola dinamika politik internal yang kompleks. Namun, titik penting lainnya datang pada 2006 ketika Chávez menunjuk Maduro sebagai Menteri Luar Negeri. Selama enam tahun, Maduro menjadi wajah diplomasi Venezuela di dunia internasional. Ia aktif mempererat hubungan dengan negara-negara sekutu ideologis, seperti Kuba, Rusia, dan China. Dalam peran ini, ia dikenal sebagai diplomat keras yang vokal mengkritik Amerika Serikat. Pengalaman panjang di panggung global membentuk kepercayaan dirinya. Selain itu, jabatan ini memperluas jaringan internasional yang kelak berguna saat ia menghadapi tekanan global sebagai presiden.
Menjadi Penerus Chávez dan Presiden Venezuela
Pada Oktober 2012, Chávez menunjuk Maduro sebagai Wakil Presiden, sinyal jelas soal suksesi politik. Ketika Chávez wafat pada Maret 2013, Maduro secara konstitusional naik sebagai presiden sementara. Pemilihan presiden khusus pada April 2013 dimenangkannya dengan selisih tipis. Sejak saat itu, Maduro memimpin Venezuela dalam situasi yang semakin sulit. Krisis ekonomi, inflasi tinggi, dan kelangkaan kebutuhan pokok menjadi tantangan harian. Meski demikian, Maduro terus menegaskan dirinya sebagai penerus sah Revolusi Bolivarian. Ia menggunakan simbol, bahasa, dan warisan Chávez untuk menjaga basis pendukung. Namun, legitimasi politiknya kerap dipersoalkan oposisi. Pemilu demi pemilu selalu dibayangi tuduhan manipulasi. Dari titik ini, kepemimpinan Maduro mulai menjadi sorotan tajam dunia internasional.
“Baca Juga : Rupiah Menguat di Hari Terakhir 2025, Jadi yang Terbaik di Asia”
Kontroversi Kekuasaan dan Tekanan Internasional
Salah satu momen paling kontroversial terjadi pada 2017 ketika Maduro mendorong pembentukan Majelis Konstituante Nasional baru. Langkah ini diambil di tengah gelombang protes besar-besaran. Oposisi dan banyak negara menilai kebijakan tersebut melemahkan parlemen hasil pemilu. Pemilihan anggota majelis berlangsung di tengah boikot oposisi dan kekerasan jalanan. Sejak itu, Maduro berhasil mengonsolidasikan kekuasaan secara signifikan. Namun, konsekuensinya berat. Sanksi internasional dijatuhkan, ekonomi makin tertekan, dan hubungan diplomatik memburuk. Amerika Serikat dan sekutunya menuduh Maduro melanggar prinsip demokrasi dan hak asasi manusia. Tekanan global ini menjadikan Maduro simbol rezim otoriter bagi sebagian pihak, sekaligus simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat bagi para pendukungnya.
Penangkapan oleh AS dan Babak Baru Venezuela
Laporan penangkapan Maduro oleh pasukan elite Amerika Serikat pada awal Januari 2026 menjadi titik paling dramatis dalam perjalanan politiknya. Informasi ini mengguncang Venezuela dan dunia internasional. Jika dikonfirmasi, peristiwa ini menandai perubahan besar dalam dinamika politik kawasan Amerika Latin. Bagi pendukung Maduro, kabar tersebut dipandang sebagai intervensi asing yang melanggar kedaulatan negara. Sebaliknya, bagi oposisi, ini dianggap sebagai akhir dari era kekuasaan yang kontroversial. Terlepas dari sudut pandang, rekam jejak Maduro mencerminkan perjalanan ekstrem: dari sopir bus hingga pusat pusaran geopolitik global. Peristiwa ini tidak hanya menentukan nasib pribadi Maduro, tetapi juga arah masa depan Venezuela yang telah lama terjebak dalam krisis multidimensi.