Jurnal Tempo – Awal 2026 menjadi periode yang terasa “hidup” bagi dunia distribusi. PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) mencatat lonjakan angkutan barang sejak Januari, dan tren itu diprediksi terus meningkat hingga Maret 2026, bertepatan dengan Ramadan dan Lebaran. Data perusahaan menunjukkan volume angkutan mencapai 222 ribu ton, naik 44 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 154 ribu ton. Di balik angka ini, ada cerita yang lebih besar: pergerakan barang menjelang momen hari besar keagamaan nasional, kebutuhan industri yang naik, dan rantai pasok yang semakin menuntut kecepatan. Di tengah jalan raya yang semakin padat dan isu ODOL yang terus mengemuka, kereta api mulai dilihat bukan sekadar alternatif, melainkan solusi logistik yang lebih rapi, terjadwal, dan efisien.
Lonjakan 44 Persen Jadi Pertanda Permintaan Mulai Menguat Sejak Awal Tahun
Kenaikan volume angkutan barang KAI Logistik sejak awal 2026 terasa seperti alarm positif bagi sektor riil. Angka 222 ribu ton bukan sekadar statistik, karena di baliknya ada pabrik yang meningkatkan produksi, gudang yang menambah stok, serta distributor yang bergerak lebih agresif. Selain itu, tren ini muncul pada saat ekonomi masih banyak diuji oleh biaya logistik, harga energi, dan perubahan pola belanja masyarakat. Namun, data tersebut memberi sinyal bahwa kebutuhan konsumsi dan pasokan industri justru menguat mendekati momen strategis. Lebih menarik lagi, pertumbuhan ini terjadi bukan di akhir tahun, melainkan di awal, ketika banyak perusahaan biasanya masih menata rencana. Karena itu, peningkatan angkutan KAI Logistik terasa seperti cerita tentang optimisme yang diam-diam tumbuh melalui jalur rel.
“Baca Juga : Menkeu Purbaya Kantongi Identitas Pejabat Kemenkeu Terkait Dugaan Alphard, Siap Koordinasi dengan KPK“
Imlek, Ramadan, Nyepi, hingga Lebaran Membuat Arus Distribusi Melejit
Februari hingga Maret 2026 memang menjadi periode padat momen. Ada Tahun Baru Imlek pada 17 Februari, awal Ramadan pada 19 Februari, Hari Raya Nyepi pada 19 Maret, dan Idulfitri pada 20 Maret 2026. Rangkaian hari besar ini bukan hanya peristiwa budaya dan spiritual, melainkan juga mesin penggerak distribusi nasional. Biasanya, sektor makanan-minuman, ritel, dan FMCG mengalami peningkatan produksi karena permintaan melonjak. Karena itu, logistik menjadi urat nadi yang menentukan apakah barang tiba tepat waktu atau justru menumpuk di satu titik. Dalam konteks ini, kereta api menawarkan jadwal yang lebih stabil dibanding moda jalan raya yang rawan kemacetan. Jadi, kenaikan angkutan barang bukan kejutan, melainkan konsekuensi logis dari kalender nasional yang sangat “padat energi.”
Kereta Kontainer Muncul sebagai Opsi Nyata Saat ODOL Mulai Diperketat
Isu Over Dimension and Over Load (ODOL) sudah lama menjadi masalah di Indonesia. Namun, ketika kebijakan menuju zero ODOL dipersiapkan dan ditargetkan berjalan penuh pada 2027, perusahaan logistik dan industri mau tidak mau harus mencari opsi yang lebih aman. Di titik inilah layanan KA Kontainer mulai terlihat relevan. Kereta memiliki kapasitas angkut besar, waktu tempuh relatif cepat, dan perjalanan yang terjadwal, sehingga lebih mudah diprediksi. Selain itu, kereta juga mengurangi ketergantungan pada truk besar yang selama ini sering menjadi tulang punggung distribusi antar kota. Banyak pelaku usaha sebenarnya tidak anti perubahan, mereka hanya butuh moda yang bisa menggantikan truk ODOL tanpa membuat biaya melonjak. Karena itu, tren kenaikan angkutan KAI Logistik terasa seperti gambaran masa depan logistik yang lebih tertib.
“Baca Juga : Pemerintah Siapkan Perpres Penghapusan Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Kelas III“
Sertifikasi Halal Membuat Layanan KA Kontainer Lebih Dipercaya Industri
Salah satu hal yang menarik dari layanan KAI Logistik adalah langkah mereka mengintegrasikan sertifikasi halal dalam terminal barang. Terminal seperti Sungai Lagoa Jakarta, Klari Karawang, Ronggowarsito Semarang, dan Kalimas Surabaya telah mengantongi sertifikasi halal, yang menjadi nilai tambah bagi sektor industri halal. Dalam praktiknya, sertifikasi ini penting untuk pelanggan makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, hingga produk FMCG yang sensitif terhadap standar kepatuhan. Selain itu, sertifikasi halal juga membangun rasa aman bagi perusahaan yang ingin memastikan rantai pasoknya tidak bermasalah. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap transparansi produksi, logistik juga ikut dinilai. Karena itu, langkah ini terasa strategis, bukan sekadar formalitas. KAI Logistik seperti membaca arah pasar: bahwa kepercayaan bukan hanya soal cepat, tetapi juga soal kepatuhan.
Green Logistics Bukan Sekadar Tren, Tapi Kebutuhan yang Mulai Dikejar Serius
KAI Logistik menempatkan kereta api sebagai moda andalan yang ramah lingkungan, dan narasi ini semakin relevan di era green logistics. Saat banyak perusahaan mulai menghitung jejak karbon, pilihan moda transportasi ikut menentukan reputasi dan efisiensi jangka panjang. Kereta api, dengan kapasitas besar dan emisi yang relatif lebih rendah dibanding angkutan jalan raya, menjadi opsi yang mulai dilirik lebih serius. Selain itu, pengalihan distribusi ke rel bisa mengurangi kemacetan, menekan risiko kecelakaan, dan menurunkan biaya per unit dalam skala besar. Karena itu, ketika KAI Logistik menyebut dirinya ingin menjadi bagian dari ekosistem utama green logistics, klaim itu terasa masuk akal. Apalagi, tren permintaan logistik menjelang Lebaran 2026 bisa menjadi momen pembuktian: apakah moda kereta bisa menjadi tulang punggung baru yang lebih modern dan berkelanjutan.
Angkutan B3 Menunjukkan Kereta Bisa Aman untuk Komoditas Berisiko Tinggi
Selain barang konsumsi, KAI Logistik juga memperkuat layanan angkutan komoditas khusus, termasuk Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Ini penting karena angkutan B3 membutuhkan standar keselamatan tinggi, mulai dari pengemasan, pelabelan, hingga manajemen risiko. KAI Logistik mengklaim sudah mengantongi perizinan regulator dan menjalankan layanan dengan prinsip kehati-hatian. Bahkan, perusahaan telah memperoleh izin untuk mengangkut 12 jenis dangerous goods seperti nitrogen, amonia, asam sulfat, etanol, hidrogen peroksida, hingga metanol. Di sisi lain, distribusi B3 melalui kereta juga mengurangi risiko di kawasan padat penduduk yang selama ini dilewati truk. Karena itu, layanan ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal keselamatan publik. Kereta menjadi simbol bahwa logistik modern tidak hanya cepat, tetapi juga lebih terukur.