Jurnal Tempo – Pergerakan pasar saham kembali menunjukkan betapa cepat nilai kekayaan seorang miliarder dapat berubah. Tiga pengusaha besar dari Jepang, China, dan Vietnam mengalami penurunan kekayaan dalam jumlah besar pada 20 Oktober 2026. Mereka adalah Masayoshi Son, Robin Zeng, dan Pham Nhat Vuong. Berdasarkan data yang dikutip dari Forbes dan laporan media, total penurunan kekayaan ketiganya mencapai sekitar Rp143,7 triliun. Angka tersebut mendekati Rp144 triliun hanya dalam satu periode perdagangan. Namun, penurunan itu bukan berarti mereka kehilangan uang tunai dalam jumlah yang sama. Sebagian besar kekayaan miliarder berasal dari kepemilikan saham perusahaan. Karena itu, ketika harga saham melemah, nilai kekayaan bersih mereka juga ikut turun. Kekayaan tiga miliarder Asia tersebut menjadi gambaran nyata tentang hubungan erat antara valuasi pasar dan kekayaan para pemilik perusahaan besar.
Masayoshi Son Mencatat Penurunan Kekayaan Terbesar
Masayoshi Son mengalami penurunan paling besar di antara tiga miliarder Asia tersebut. Kekayaan pendiri sekaligus pemimpin SoftBank Group itu berkurang sekitar 4,2 miliar dollar AS. Dengan asumsi kurs Rp17.981 per dollar AS, nilainya setara sekitar Rp75,5 triliun. Kekayaan Son kemudian berada di sekitar 56,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.010 triliun. Penurunan tersebut terjadi ketika saham SoftBank melemah sekitar 5,24 persen pada perdagangan Selasa pagi. Bahkan, saham perusahaan dilaporkan telah turun hampir 15 persen dalam lima sesi perdagangan terakhir. Tekanan tersebut menunjukkan bagaimana perubahan sentimen investor dapat memengaruhi kekayaan pemegang saham utama. SoftBank memiliki portofolio investasi yang luas dan mempunyai eksposur terhadap sektor teknologi. Karena itu, perubahan pandangan investor terhadap bisnis teknologi dan kecerdasan buatan dapat ikut memengaruhi pergerakan saham perusahaan.
Baca Juga : Menelusuri Pembayaran Gaji PNS, dari Tunjangan Beras hingga Wacana Kopdes
Kekhawatiran Sektor AI Ikut Menekan SoftBank
SoftBank telah lama membangun posisinya sebagai salah satu investor teknologi terbesar di dunia. Perusahaan memiliki berbagai investasi strategis dan terhubung dengan perusahaan teknologi besar. Namun, pasar mulai memperhatikan risiko yang mengikuti ekspansi agresif di sektor kecerdasan buatan. Kekhawatiran mengenai utang dan tingginya kebutuhan modal menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen terhadap saham terkait AI. Kondisi tersebut ikut memberikan tekanan pada SoftBank selama Oktober. Ketika harga saham perusahaan turun, nilai kepemilikan Masayoshi Son juga ikut terpengaruh. Situasi ini memperlihatkan sisi lain dari ledakan investasi teknologi. Potensi pertumbuhan AI memang besar, tetapi investor tetap memperhitungkan biaya dan risiko keuangan. Oleh karena itu, kekayaan tiga miliarder Asia tidak hanya dipengaruhi performa bisnis mereka. Perubahan harapan pasar terhadap teknologi masa depan juga dapat menggerakkan nilai kekayaan dalam waktu sangat singkat.
Robin Zeng Kehilangan Lebih dari Rp43 Triliun
Tekanan besar juga menghampiri Robin Zeng, pendiri sekaligus CEO Contemporary Amperex Technology atau CATL. Perusahaan tersebut dikenal sebagai salah satu produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia. Kekayaan Zeng dilaporkan berkurang sekitar 2,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp43,1 triliun. Setelah penurunan itu, kekayaan bersihnya berada di kisaran 43,3 miliar dollar AS. Nilai tersebut setara sekitar Rp778,5 triliun berdasarkan kurs yang digunakan dalam laporan. Penurunan terjadi ketika saham CATL melemah sekitar 2,6 persen pada perdagangan Selasa. Saham perusahaan juga disebut mengalami tekanan lebih besar dalam periode tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik tidak selalu membuat saham perusahaan baterai terus meningkat. Investor tetap mempertimbangkan valuasi, persaingan, permintaan pasar, dan kondisi ekonomi China. Faktor-faktor tersebut akhirnya dapat memengaruhi nilai saham serta kekayaan pemegang saham utamanya.
Baca Juga : ESDM Jamin Pasokan Tambang untuk Hilirisasi Tidak Dipangkas
Pham Nhat Vuong Ikut Terpukul Pelemahan Vingroup
Dari Asia Tenggara, nama Pham Nhat Vuong ikut masuk dalam daftar miliarder dengan penurunan kekayaan besar. Pengusaha Vietnam tersebut dikenal sebagai pendiri Vingroup. Kekayaannya dilaporkan berkurang sekitar 1,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp25,1 triliun. Setelah penurunan tersebut, kekayaan bersih Vuong berada di sekitar 32,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp582,5 triliun. Perubahan itu terjadi seiring pelemahan saham Vingroup. Saham perusahaan sempat turun menuju level terendah dalam sekitar dua bulan. Sebelumnya, harga saham Vingroup mencapai level tinggi pada awal September. Perusahaan tersebut menjalankan ekspansi besar di sejumlah sektor, termasuk kendaraan listrik dan proyek infrastruktur. Strategi ekspansi dapat menciptakan peluang pertumbuhan, tetapi pasar juga memperhatikan kebutuhan modal dan risikonya. Karena itu, perubahan sentimen terhadap Vingroup dapat langsung memengaruhi nilai kekayaan Vuong sebagai pemegang saham utama.
Total Penurunan Kekayaan Mendekati Rp144 Triliun
Jika penurunan ketiga pengusaha tersebut digabungkan, nilainya mencapai sekitar Rp143,7 triliun. Masayoshi Son menyumbang penurunan terbesar dengan sekitar Rp75,5 triliun. Robin Zeng menyusul dengan sekitar Rp43,1 triliun. Sementara itu, kekayaan Pham Nhat Vuong berkurang sekitar Rp25,1 triliun. Totalnya menggambarkan besarnya nilai aset yang dapat berubah ketika pasar bergerak dalam satu arah. Namun, angka itu perlu dibaca secara tepat. Kekayaan miliarder biasanya dihitung dari estimasi nilai kepemilikan saham dan aset lainnya. Oleh sebab itu, penurunan Rp143,7 triliun tidak sama dengan uang tunai yang keluar dari rekening mereka. Nilai kekayaan tersebut juga dapat kembali meningkat apabila harga saham pulih. Meski demikian, kekayaan tiga miliarder Asia yang tergerus hampir Rp144 triliun memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh pasar terhadap valuasi orang-orang terkaya dunia.
Gejolak Pasar Menunjukkan Kekayaan Miliarder Bisa Berubah Cepat
Penurunan kekayaan tidak hanya terjadi pada miliarder Asia. Sejumlah orang kaya dari kawasan lain juga menghadapi tekanan pada periode yang sama. Bernard Arnault, pengusaha barang mewah asal Perancis, dilaporkan kehilangan sekitar 1,9 miliar dollar AS dari kekayaan bersihnya. Perubahan besar juga terjadi pada kekayaan sejumlah miliarder Amerika Serikat. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daftar orang terkaya dunia dapat berubah setiap hari mengikuti pasar. Harga saham, nilai perusahaan, kurs mata uang, dan sentimen investor menjadi faktor penting dalam perhitungan kekayaan mereka. Bagi masyarakat umum, angka ratusan triliun rupiah tentu terasa sangat besar. Namun, bagi miliarder dengan kepemilikan saham bernilai tinggi, perubahan beberapa persen dapat menghasilkan selisih luar biasa. Kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa kekayaan berbasis saham bersifat dinamis. Ketika pasar naik, nilainya dapat melonjak. Sebaliknya, koreksi pasar dapat menghapus miliaran dollar AS dalam waktu singkat.