Jurnal Tempo – Perjanjian Nuklir Rusia-AS berakhir pada 5 Februari 2026, dan momen ini langsung memicu alarm global. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “masa kelam” bagi perdamaian dan keamanan internasional. Pernyataan ini terdengar keras, tetapi cukup masuk akal jika kita melihat konteksnya. Selama 15 tahun, dunia masih punya pagar pembatas yang menahan dua kekuatan nuklir terbesar agar tidak bergerak tanpa kontrol. Namun kini, pagar itu runtuh, dan situasi terasa seperti kembali ke era ketidakpastian yang dulu pernah membuat dunia hidup dalam bayang-bayang perang nuklir.
Selain itu, berakhirnya perjanjian ini bukan hanya soal dokumen. Ini tentang hilangnya sistem pembatasan yang bisa diverifikasi. Artinya, bukan sekadar janji politik, tetapi mekanisme nyata yang bisa memantau dan mengurangi risiko salah hitung. Dalam dunia yang dipenuhi konflik, kesalahan kecil bisa menjadi percikan besar. Karena itu, banyak pihak menilai ini bukan sekadar berita diplomasi, melainkan perubahan besar dalam arsitektur keamanan global.
Saya melihatnya seperti lampu merah yang tiba-tiba mati di persimpangan paling padat. Semua kendaraan masih bisa jalan, tetapi risiko tabrakan meningkat drastis. Dunia tetap berjalan, namun ketegangan geopolitik sekarang punya ruang lebih luas untuk berubah menjadi krisis yang tidak terkendali.
Apa Itu New START dan Mengapa Selama Ini Jadi Penjaga Stabilitas
Perjanjian Nuklir Rusia-AS berakhir karena New START resmi tidak berlaku lagi. New START sendiri adalah traktat pengendalian senjata nuklir strategis yang ditandatangani pada 8 April 2010 di Praha dan berlaku sejak 5 Februari 2011. Perjanjian ini menggantikan START I yang berakhir pada 2009 serta melanjutkan jalur pengurangan senjata setelah era SORT 2002. Dengan kata lain, ini bukan perjanjian biasa, tetapi kelanjutan dari puluhan tahun diplomasi yang menahan perlombaan senjata agar tidak kembali liar seperti masa Perang Dingin.
Yang membuat New START penting adalah fungsinya sebagai “alat ukur” yang bisa dipercaya. Ketika ada batas, ada aturan, dan ada verifikasi, maka dunia punya pijakan. Negara lain juga bisa membaca situasi dengan lebih stabil. Tanpa itu, semua berubah menjadi spekulasi. Spekulasi, dalam urusan nuklir, adalah sesuatu yang sangat berbahaya karena memicu paranoia, dan paranoia memicu keputusan ekstrem.
Lebih jauh lagi, pengendalian senjata bukan hanya mengurangi jumlah hulu ledak. Ia juga menurunkan risiko salah tafsir. Ketika komunikasi memburuk, pengawasan yang hilang bisa menciptakan ruang bagi rumor dan ketakutan. Karena itu, New START selama ini dianggap sebagai salah satu pilar terakhir yang menjaga stabilitas strategis Rusia dan Amerika Serikat.
“Baca Juga : Bill Gates Akhirnya Buka Suara soal Epstein, Minta Maaf dan Akui Penyesalan“
Maka wajar jika ketika perjanjian itu habis, dunia merasakan efeknya seperti kehilangan rem darurat di kendaraan yang sedang melaju kencang.
PBB Menyebut “Masa Kelam” dan Pesannya Sangat Tegas
Perjanjian Nuklir Rusia-AS berakhir, dan PBB langsung mengeluarkan pernyataan yang jarang terdengar sekeras ini. Antonio Guterres menyebut berakhirnya New START sebagai masa kelam bagi perdamaian dan keamanan internasional. Ia menegaskan dunia kini menghadapi situasi tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Rusia dan Amerika Serikat. Kalimat ini terlihat diplomatis, namun maknanya sebenarnya tajam: dunia memasuki fase tanpa pagar hukum yang jelas.
Selain itu, Guterres mengingatkan bahwa selama ini pengendalian senjata telah menjaga stabilitas dan mencegah bencana nuklir. Ia juga menyinggung bagaimana perjanjian-perjanjian sejak era SALT hingga New START berhasil memangkas ribuan senjata nuklir. Jadi, yang hilang bukan hanya satu dokumen, melainkan hasil panjang dari kerja diplomasi lintas generasi.
Menariknya, Guterres juga menambahkan bahwa pembubaran capaian puluhan tahun ini terjadi pada waktu yang paling buruk. Pernyataan ini terasa relevan karena dunia sedang panas: konflik regional, persaingan teknologi militer, hingga ketegangan politik global yang meningkat. Dalam situasi seperti itu, hilangnya satu penyangga keamanan bisa memperbesar risiko.
Secara pribadi, saya menilai PBB sedang mengirim pesan “wake up call” kepada dunia. Karena ketika PBB sudah bicara sekeras ini, berarti kekhawatirannya sudah melewati batas wajar.
Dunia Tanpa Batas Nuklir: Risiko Salah Perhitungan Jadi Lebih Besar
Perjanjian Nuklir Rusia-AS berakhir, dan salah satu dampak terbesarnya adalah meningkatnya risiko salah perhitungan. Dalam dunia nuklir, tidak semua bencana terjadi karena niat jahat. Banyak krisis justru muncul dari miskomunikasi, salah baca intelijen, atau reaksi berlebihan terhadap langkah lawan. Saat masih ada verifikasi, kedua pihak bisa saling membaca situasi dengan lebih tenang. Namun ketika sistem itu hilang, ruang spekulasi melebar.
Selain itu, tanpa batasan strategis yang terverifikasi, negara-negara lain juga akan merasa lebih cemas. Kecemasan ini sering memicu reaksi berantai. Misalnya, negara tertentu meningkatkan anggaran pertahanan, lalu negara lain ikut merespons. Pada akhirnya, perlombaan senjata tidak hanya terjadi di dua negara, tetapi bisa menyebar lebih luas.
PBB juga menekankan bahwa risiko penggunaan senjata nuklir saat ini adalah yang tertinggi dalam beberapa dekade. Ini bukan kalimat untuk dramatisasi. Ini peringatan bahwa situasi geopolitik sekarang tidak stabil, dan teknologi perang semakin cepat berkembang. Jika salah satu pihak merasa terdesak, keputusan ekstrem bisa lebih mudah diambil.
Dari sudut pandang manusia biasa, situasi ini memang terasa jauh. Namun sejarah menunjukkan, krisis nuklir sering muncul tiba-tiba, dan efeknya bisa langsung global. Karena itu, berakhirnya perjanjian ini layak dianggap sebagai peristiwa yang mengubah arah keamanan dunia.
“Baca Juga ” Seif Al Islam Khadafi, Anak Muammar Khadafi, Tewas Dibunuh Geng Bersenjata“
Dari SALT Hingga New START: Sejarah Panjang yang Kini Terputus
Perjanjian Nuklir Rusia-AS berakhir, dan ini memutus rantai sejarah panjang pengendalian senjata. Sejak era SALT, dunia berusaha menekan perlombaan nuklir agar tidak berakhir pada kehancuran. SALT bukan sempurna, tetapi menjadi pondasi awal. Kemudian muncul START, yang memperkuat jalur pengurangan hulu ledak dan sistem verifikasi. Semua itu membentuk pola: meskipun Rusia dan AS bersaing, mereka tetap sadar bahwa nuklir adalah batas terakhir yang tidak boleh dilewati.
Namun sekarang, rantai itu terputus. Ini bukan sekadar simbol. Ini menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase baru, di mana kerja sama strategis menjadi lebih sulit. Banyak analis menyebutnya sebagai kembalinya “politik kekuatan” tanpa pengaman.
Selain itu, perjanjian-perjanjian ini selama puluhan tahun membentuk rasa “stabilitas minimum.” Dunia tahu bahwa ada batas, ada kontrol, dan ada jalur komunikasi. Tanpa itu, kita kembali pada situasi di mana kekuatan militer menjadi alat utama untuk menekan lawan. Dalam konteks modern, itu berbahaya karena konflik tidak lagi hanya fisik, tetapi juga digital, ekonomi, dan informasi.
Saya melihatnya sebagai kemunduran besar. Karena di tengah teknologi yang semakin maju, manusia justru kehilangan sistem yang dulu dibuat untuk menjaga kewarasan politik global.
Teknologi Militer Baru Membuat Situasi Lebih Rumit daripada Era Perang Dingin
Perjanjian Nuklir Rusia-AS berakhir, dan masalahnya tidak sama seperti era 1980-an. Saat ini, dunia menghadapi perkembangan teknologi yang jauh lebih kompleks. Ada senjata hipersonik, ada sistem AI untuk analisis militer, ada perang siber, dan ada jaringan informasi yang bisa memicu kepanikan massal hanya dalam hitungan menit. Artinya, keputusan strategis bisa terjadi lebih cepat, sementara ruang diplomasi justru menyempit.
Selain itu, teknologi baru sering membuat batas antara serangan konvensional dan strategis menjadi kabur. Misalnya, serangan siber pada infrastruktur pertahanan bisa dianggap sebagai ancaman strategis. Dalam situasi tanpa perjanjian nuklir yang mengikat, respons terhadap ancaman semacam ini bisa lebih agresif.
Guterres juga memperingatkan bahwa hilangnya batasan akan memicu kekhawatiran global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi. Ini poin yang penting. Karena sekarang, perang tidak selalu dimulai dengan peluru. Ia bisa dimulai dengan sabotase digital atau provokasi informasi.
Saya pribadi percaya, justru karena dunia lebih canggih, pengendalian senjata harus lebih kuat. Ironisnya, yang terjadi malah sebaliknya: sistem pengaman lama runtuh ketika teknologi baru semakin berbahaya.