Jurnal Tempo – Pengeboman Israel ke Gaza di bulan Ramadhan menimbulkan reaksi global. Banyak negara mengecam tindakan ini, terutama negara-negara Muslim. Netanyahu menghadapi tekanan besar, baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Kebijakan militernya semakin dipertanyakan, terutama karena meningkatnya korban sipil. Konflik ini juga memengaruhi stabilitas politik di Israel.
“Baca Juga : KKP Sebut Perbankan Tak Tertarik Danai Budidaya Perikanan”
Negara-negara di Timur Tengah mengutuk pengeboman Gaza yang dilakukan Israel. Turki, Iran, dan Mesir menyebut tindakan ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Amerika Serikat, sekutu utama Israel, juga mendapat tekanan untuk mengambil tindakan. Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat guna membahas eskalasi ini. Netanyahu harus menghadapi kritik tajam dari pemimpin dunia. Banyak pihak menuntut gencatan senjata segera.
Kebijakan Netanyahu memicu perpecahan di dalam negeri. Sebagian masyarakat mendukung serangan sebagai bentuk pertahanan terhadap Hamas. Namun, sebagian lainnya menilai kebijakan ini hanya memperburuk konflik berkepanjangan. Demonstrasi besar-besaran terjadi di Tel Aviv dan Yerusalem. Warga menuntut solusi damai dan menolak pendekatan militer yang agresif. Netanyahu kini menghadapi dilema politik yang sulit.
Partai oposisi di Israel memanfaatkan situasi ini untuk menyerang Netanyahu. Mereka menilai kebijakan luar negeri Netanyahu semakin merusak hubungan diplomatik Israel. Pemimpin oposisi menyoroti kegagalan Netanyahu dalam menjaga stabilitas di wilayah tersebut. Para analis politik memperkirakan bahwa jika konflik terus berlanjut, Netanyahu bisa kehilangan dukungan politik. Situasi ini semakin memperumit posisinya di pemerintahan.
Israel akan menghadapi pemilu dalam waktu dekat. Kebijakan Netanyahu terhadap Gaza bisa memengaruhi hasil pemilihan. Jika serangan ini terus berlanjut, citra Netanyahu di mata pemilih bisa memburuk. Partai-partai sayap kanan mulai mempertimbangkan langkah strategis untuk menggulingkannya. Stabilitas pemerintahan Israel kini menjadi tanda tanya besar. Pemilih mulai mempertanyakan kepemimpinan Netanyahu dalam menangani konflik.
Hamas tidak tinggal diam dan meluncurkan roket ke wilayah Israel. Serangan balasan ini memperburuk ketegangan yang sudah tinggi. Netanyahu menghadapi dilema besar antara menanggapi Hamas dengan kekuatan militer atau mencari solusi diplomatik. Tekanan semakin besar untuk menghindari eskalasi lebih lanjut. Namun, Netanyahu tetap kukuh dalam pendiriannya untuk menindak Hamas dengan tegas.
Serangan di bulan Ramadhan merusak citra Israel di mata dunia. Negara-negara Eropa mulai mempertanyakan hubungan diplomatik dengan Israel. Beberapa negara bahkan mempertimbangkan sanksi terhadap pemerintahan Netanyahu. Banyak pemimpin dunia menuntut investigasi atas pelanggaran hak asasi manusia. Kritik terhadap Israel semakin meluas, dan tekanan terhadap Netanyahu semakin besar.