Jurnal Tempo – Pemerintah tengah menghadapi persoalan kualitas beras Bulog yang ditemukan mengandung kutu. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) memberikan saran agar beras berkutu ini dialihkan sebagai pakan ternak. Langkah ini dianggap lebih efektif dibandingkan dengan membuang beras tersebut.
Beras Bulog sering menjadi sorotan karena kualitasnya yang bervariasi. Beberapa laporan mengungkapkan bahwa sebagian beras yang disimpan di gudang Bulog mengalami penurunan kualitas. Salah satu permasalahan utama adalah munculnya kutu dalam beras. Kondisi ini membuat masyarakat ragu untuk mengonsumsi beras tersebut. Fenomena beras berkutu sebenarnya bisa terjadi secara alami akibat penyimpanan dalam jangka waktu lama. Kutu muncul karena kelembaban tinggi serta kurangnya sirkulasi udara dalam gudang penyimpanan. Walau tidak berbahaya bagi kesehatan manusia, kehadiran kutu membuat beras menjadi kurang layak dikonsumsi.
“Baca Juga : Benarkah Duterte Diculik? Pengacara Angkat Bicara di Sidang Perdana”
Wamentan menyarankan agar beras Bulog yang mengandung kutu tidak dibuang, tetapi dialihkan untuk keperluan lain. Salah satu opsi yang dianggap lebih bermanfaat adalah menjadikan beras tersebut sebagai pakan ternak. Langkah ini dinilai dapat mengurangi pemborosan serta tetap memanfaatkan stok beras yang ada. Menurut Wamentan, penggunaan beras berkutu sebagai pakan ternak lebih baik dibandingkan dengan melakukan pemusnahan. Beras yang sudah tidak layak konsumsi manusia masih bisa diolah menjadi pakan ayam atau sapi. Dengan demikian, stok beras yang berkualitas rendah tetap memiliki nilai ekonomi.
Masyarakat memiliki pandangan beragam terhadap usulan Wamentan. Sebagian pihak mendukung ide tersebut karena dianggap sebagai solusi praktis. Alih-alih membuang beras yang sudah berkutu, langkah ini memberikan manfaat bagi sektor peternakan. Namun, ada juga yang mengkritik kebijakan ini dan mempertanyakan penyimpanan beras Bulog. Mereka menilai bahwa pemerintah harus lebih tegas dalam menjaga kualitas beras sejak awal. Penyimpanan yang kurang optimal seharusnya diatasi agar tidak terjadi masalah berulang.
“Simak juga: Xiaomi TV S Mini LED 2025 Resmi Meluncur, Coba Dulu Sebelum Beli”
Bulog menyatakan bahwa mereka memiliki prosedur ketat dalam menjaga kualitas beras. Namun, mereka mengakui bahwa dalam kondisi tertentu, beras dapat mengalami degradasi. Untuk menangani masalah ini, Bulog berkomitmen meningkatkan manajemen penyimpanan. Selain itu, Bulog akan melakukan seleksi ketat terhadap stok beras yang ada. Mereka juga mempertimbangkan opsi untuk mendistribusikan beras lebih cepat agar kualitasnya tetap terjaga. Dengan begitu, kasus beras berkutu dapat dikurangi di masa mendatang.
Jika benar-benar diterapkan, kebijakan ini akan menguntungkan peternak. Harga pakan ternak yang semakin mahal menjadi tantangan besar dalam industri peternakan. Dengan adanya suplai beras berkutu sebagai alternatif pakan, biaya operasional peternak bisa lebih ringan. Namun, peternak juga harus memastikan bahwa beras yang diberikan aman dan sesuai standar pakan ternak. Beberapa proses tambahan mungkin diperlukan agar beras dapat dikonsumsi hewan dengan baik. Oleh karena itu, regulasi terkait distribusi beras berkutu perlu diperjelas.