Jurnal Tempo – Pesta Gas Tertawa Berujung Tragedi kebakaran mengguncang Kota Manlleu, Catalonia, Spanyol, pada Senin (16/2/2026). Api melalap sebuah gedung apartemen berlantai lima, sekitar 80 kilometer di utara Barcelona. Dalam peristiwa ini, lima remaja berusia 14 hingga 18 tahun dilaporkan meninggal dunia. Otoritas setempat menyebut sumber api berasal dari ruang penyimpanan, sebuah area yang tampak sepele, namun berubah menjadi perangkap maut. Meski tim penyelamat bergerak cepat, para korban tidak bisa keluar dari ruangan tertutup tersebut. Sementara itu, dugaan awal dari media lokal menyebut tragedi ini berkaitan dengan aktivitas menghirup “gas tertawa” yang bocor. Kisah ini bukan hanya soal kebakaran, melainkan juga tentang kombinasi kecerobohan, ruang sempit, dan momen kecil yang berujung kehilangan besar.
Api Berawal dari Ruang Penyimpanan yang Tak Disangka
Ruang penyimpanan biasanya dianggap tempat aman, bahkan nyaris tak pernah dipikirkan dalam situasi darurat. Namun, di Manlleu, justru ruangan itulah yang menjadi titik awal kebakaran. Otoritas wilayah Catalonia melaporkan api muncul dari area penyimpanan di gedung apartemen berlantai lima. Yang membuat tragedi ini terasa lebih menyayat adalah pernyataan pemadam kebakaran: orang-orang di dalam ruangan tidak dapat keluar, sehingga nyawa mereka tidak bisa diselamatkan meskipun layanan darurat sudah melakukan intervensi. Dalam banyak kasus kebakaran, kesempatan hidup sering ditentukan oleh detik-detik pertama. Sayangnya, pada peristiwa ini, ruangan tertutup rapat dan kondisi panik membuat waktu seakan membeku. Bahkan jika api belum sepenuhnya membesar, asap dan panas sudah cukup untuk melumpuhkan. Di titik ini, kebakaran bukan lagi sekadar insiden, tetapi menjadi tragedi yang membekas.
“Baca Juga : Usai Rafale, Indonesia Terima Lagi 2 Jet T-50i Korsel: Langkah Sunyi Memperkuat Langit Nusantara“
Dugaan Pesta Gas Tertawa Mengubah Malam Jadi Petaka
Menurut laporan media lokal Cadena SER, tragedi ini diduga bermula saat sekelompok remaja berkumpul di lantai atas untuk menghirup gas tertawa. Dalam beberapa tahun terakhir, gas ini memang sering dianggap “mainan” berbahaya, karena memberi sensasi singkat yang membuat orang merasa ringan, tertawa, dan kehilangan kendali. Namun, di balik efek itu, ada risiko besar yang jarang dibicarakan dengan serius. Pada kasus Manlleu, saksi dan kerabat korban menduga gas mengalami kebocoran di ruangan yang tertutup rapat. Ruang sempit yang minim ventilasi membuat gas cepat terkumpul. Dalam kondisi seperti itu, satu percikan kecil bisa berubah menjadi ledakan. Ironisnya, aktivitas yang awalnya mungkin dianggap hiburan remaja, justru menjadi titik awal kehilangan lima nyawa sekaligus dalam satu malam.
Korek Api Menjadi Pemicu Ledakan yang Tak Terhindarkan
Kebocoran gas dalam ruangan tertutup adalah kombinasi paling berbahaya dalam insiden kebakaran. Menurut informasi yang beredar, ledakan terjadi ketika salah satu remaja menyalakan korek api. Peristiwa ini terasa tragis karena pemicunya begitu sederhana, sesuatu yang sering dilakukan tanpa pikir panjang. Dalam hitungan detik, percikan kecil dapat memicu api yang menyambar cepat, terutama jika gas sudah memenuhi ruangan. Remaja yang menyalakan api tersebut dikabarkan selamat, sementara korban lainnya terjebak dan tidak bisa keluar. Di sisi lain, beberapa remaja lain juga disebut berhasil menyelamatkan diri, meski otoritas belum merinci jumlah penyintas secara resmi. Pada situasi seperti ini, rasa bersalah, trauma, dan luka psikologis bisa menghantui para penyintas seumur hidup. Sebab, mereka bukan hanya kehilangan teman, tetapi juga membawa kenangan bahwa semuanya terjadi begitu cepat.
“Baca Juga : Perundingan Kedua Iran-AS Selesai, Teheran Klaim Banyak Titik Sepakat di Jenewa“
Korban Berusia 14–18 Tahun, Duka yang Terlalu Muda
Kepolisian Catalonia mengonfirmasi bahwa lima korban yang meninggal adalah remaja berusia antara 14 hingga 18 tahun. Angka usia ini membuat tragedi terasa lebih berat, karena mereka berada di masa yang seharusnya dipenuhi rencana, sekolah, pertemanan, dan harapan masa depan. Ketika remaja meninggal dalam insiden seperti ini, duka yang tertinggal bukan hanya milik keluarga, tetapi juga komunitas kecil di sekitar mereka. Di kota-kota seperti Manlleu, kabar kematian lima anak muda bisa mengguncang semua orang. Selain itu, tragedi ini mengingatkan bahwa risiko remaja bukan selalu datang dari kejahatan besar atau konflik, tetapi justru dari keputusan impulsif yang dianggap “sekadar coba-coba.” Di titik ini, kematian lima remaja menjadi alarm keras bahwa edukasi tentang bahaya zat inhalan tidak boleh dianggap remeh.
Petugas Ikut Terdampak, Empat Polisi Dirawat karena Asap
Kebakaran besar tidak hanya memakan korban dari dalam gedung, tetapi juga menguji orang-orang yang datang untuk menyelamatkan. Wali Kota Manlleu Arnau Rovira menyebut empat petugas polisi harus mendapatkan perawatan medis akibat menghirup asap saat proses evakuasi. Ini menunjukkan betapa pekat dan berbahayanya asap yang menyelimuti lokasi. Dalam kebakaran, asap sering lebih mematikan daripada api, karena mengandung gas beracun yang bisa membuat seseorang kehilangan kesadaran dalam waktu singkat. Para petugas yang bertugas biasanya sudah terlatih, namun situasi di lapangan tidak selalu bisa diprediksi. Apalagi jika sumber api berasal dari ruangan tertutup dengan potensi ledakan. Karena itu, insiden ini juga memperlihatkan sisi lain dari tragedi: orang-orang yang bertaruh nyawa untuk menolong, sering kali ikut menjadi korban, meski dalam bentuk yang berbeda.